KEPEMIMPINAN MISI

I. PENDAHULUAN

Kepemimpinan merupakan hal yang sangat penting bagi sebuah organisasi. Charles R. Swindoll mengatakan: “Apa yang kita maksudkan dengan sebutan kepemimpinan? Jika saya mendefinisikan dalam satu kata saja, maka kata itu adalah pengaruh. Saudara memimpin seseorang berdasarkan sampai sejauh mana saudara mempengaruhi dia.” Dari pengaruhnya seseorang dapat disebut pemimpin di dalam organisasi yang dipimpinnya.
Para ahli sosiologi mengatakan bahwa setiap manusia (bahkan yang paling tertutup) mempengaruhi paling sedikit 10.000 manusia lainnya selama hidupnya. Oleh karenanya yang menjadi persoalan bukan apakah kita mampu mempengaruhi orang lain, melainkan pengaruh macam apa yang kita berikan kepada orang lain. Demikian pula dengan seorang pemimpin rohani, dampak apa yang akan diberikan seorang pemimpin rohani kepada orang-orang disekitarnya?
Dalam Kepemimpinan For Dummies; “Para pemimpin besar memiliki kualitas tertentu yang memotivasi orang di sekitar mereka. Tapi di luar kualitas kepemimpinan, pemimpin harus mengembangkan misinya dan kemudian terus menerus memeriksa kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (disingkat SWOT) untuk menjaga diri dan orang-orang yang dipimpinnya Seorang pemimpin juga menetapkan tujuan, misinya adalah rencana aksi yang dilakukan bersama-sama Anda untuk mencapai tujuan tersebut.” Seorang pemimpin haruslah dinamis, mengikuti perkembangan jaman dan membawa organisasinya atau orang yang dipimpinnya untuk terus maju dengan mempertimbangkan kekuatan, kelemahan, tantangan dan ancaman yang dihadapinya, sehingga dapat mencapai tujuan yang baik.
Kepemimpinan yang dapat meraih kesuksesan dengan baik di dalam organisasinya, diperlukan seorang pemimpin yang terlatih dan memiliki pendidikan yang memadai. Sam E. Stone menuliskan, “Sebuah organisasi tidak akan menjadi besar dan mengalami keberhasilan jika tidak memiliki pemimpin yang tidak terlatih, tidak memiliki komitmen dan tidak terdidik untuk memimpin organisasi yang dipimpinnya, masa depan akan gelap. Tetapi jika kita memiliki pemimpin yang berdedikasi, terdidik dan memiliki komitmen serta motivasi yang baik, maka kita optimis kesuksesan dapat kita raih.”
Seorang Pemimpin juga harus memiliki inisiatif dalam hidupnya. Le Roy Eims menuliskan; “Inisiatif didefinisikan sebagai semangat yang dibutuhkan untuk memicu tindakan, Bagaimanakah seseorang pemimpin mendapatkan semangat ini? Bagaimana seorang pemimpin menjadi pemicu tindakan? Yang paling produktif adalah melatih dirinya untuk berfikir ke depan. Seorang pemimpin adalah seorang yang melihat lebih banyak yang dilihat orang lain, dan yang dilihatnya sebelum yang lain melihatnya.”
Jika seorang melatih dirinya untuk berfikir ke depan, akan terjadi dua pengaruh positif terhadap pekerjaannya. Pertama, ia akan terbebas dari masalah. Ia akan terhindar dari lubang-lubang di jalanan. Karena akan tahu arah yang ditujunya, kemungkinan yang akan terjadi, tahu ke arah mana yang dituju dan hasil yang diinginkannya. Kedua dengan berfikir kemasa depan, sang pemimpin dapat menetapkan sasaran bagi dirinya sendiri dan kelompoknya. Dengan berfirkir seperti tersebut akan dapat memikirkan cara terbaik untuuk mencapai sasaran dan mulai memicu tindakan kearah yang maju.
Le Roy Eims menegaskan; “Seorang pemimpin harus mengadakan persekutuan dengan Firman Tuhan serta berdoa setiap hari. Kalau tidak, ia mungkin dituntun oleh pengertiannya sendiri atau menuyusun rencana-rencana dengan hikmat dunia.” Seorang pemimpin harus ingat bahwa kebenaran hanya di dalam Kristus. Pengajaran manajemen duniawi atau buku-buku kepemimpinan memang bermanfaat, namun sumber yang paling mendasar adalah Firman Tuhan. “Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya adari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia (1 Korintus 1:25).” Rencana dan dasar dari pelayanan Seorang Pemimpin adalah Firman Tuhan.
Saat ini gereja dan organisasi misi lebih banyak daripada masa sebelumnya. Keadaan ini menunjukkan adanya kebutuhan yang semakin besar akan pemimpin, karena kekuatan dan keberhasilan dalam suatu pergerakan Misi terletak pada keberadaan pemimpin-pemimpinnya.
Makalah ini akan membahas Kepemimpinan Misi, yang terinci dalam kepemimpinan hamba dan kepemimpinan yang memberi dampak. Kepemimpinan Misi di Gereja dan Lembaga Misi, membahas strategi pelipat gadaan dan Penginjilan Lintas Budaya. Serta memberikan contoh gereja atau lembaga misi dengan harapan dapat belajar dan meneladani apa yang telah dilakukannya. Kemudian Penutup yang berisi kesimpulan apa yang sudah dipaparkan sebelumnya.

II. KEPEMIMPINAN MISI

A. Kepemimpinan Hamba
H. Venema menuliskan: “Dalam bahasa Latin “missio” berarti pengutusan, sama dengan kata Yunani “apostole”. Dalam Yohanes 20:21, dipakai dua kata; “apostello” (mengutus) dan “pempo” (mengirim).kedua kata ini dipakai dalam satu ayat, ‘Sama seperti Bapa mengutus (apostello) Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus (pempo=mengirim) kamu’. Kata kerja Latin “mitto” (mengirim) digunakan sebagai terjemahan untuk kedua kata Yunani “Apostello” dan “pempo”. Sudah jelas dari terjemahan Yohanes 20:21, bahwa kedua kata ini dipakai dengan arti yang sama. Hanya, kata “pempo” lebih luas dari kata “apostello”. Dalam bahasa Indonesia kata “mengirim” lebih luas dari “mengutus”.
Berdasarkan Yohanes 20:21, kata “missio” (pengutusan) dapat disimpulkan; Allah Sang Pengutus Agung mengutus Anak-Nya Yesus Kristus (Missio Dei) dan Yesus Kristus mengutus rasul-rasul-Nya/gereja-Nya (Missio Christi). Allah menjadi pemimpin atas Yesus Kristus dan Yesus Kristus menjadi pemimpin atas para rasul dan gerejanya.
Sebagai orang percaya yang kita semua percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas tertinggi yang menjadi acuan bagi setiap usaha pencarian kebenaran dalam dunia. Satu-satunya acuan mutlak model kepemimpinan Misi yang sempurna bagi orang percaya yang sesuai dengan Alkitab adalah Kristus.
Model kepemimpinan yang diajarkan oleh Yesus dapat dilihat dalam Matius 20:25-28: “Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;
sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Model kepemimpinan ini disebut sebagai servant leadership (kepemimpinan yang menghamba/melayani).
Dewasa ini konsep/model servant leadership menjadi sebuah konsep yang mulai dipelajari oleh baik orang percaya maupun orang tidak percaya. Rober Greenleaf dan kemudian diikuti oleh penulis-penulis seperti Stephen Covey, Peter Block, Peter Senge, Max DePree, Margaret Wheatley, dan Ken Blanchard memopulerkan istilah servant leadership.
Kepemimpinan dunia pada umumnya ternyata tidak cocok dengan pandangan Yesus tentang kepemimpinan. Sementara dunia memandang kepemimpinan sebagai masalah kekuasaan, gaya/cara atau teknik memimpin, Yesus menyatakan bahwa kepemimpinan adalah masalah karakter. Berdasarkan Mat. 20:25-28, John MacArthur menulis; “bahwa menurut Kristus, jenis kepemimpinan yang paling sejati dan benar adalah yang mengutamakan pelayanan, pengorbanan, dan sikap tidak mementingkan diri sendiri. Orang yang sombong dan mengagungkan diri sendiri, jauh dari citra pemimpin yang berdasar pada Kristus, tidak perduli seseorang itu memiliki kekuatan politik atau memegang kekuasaan yang besar”
Dengan kata lain MacArthur menggambarkan sosok seorang pemimpin sebagai seorang pelayan yang melayani. Bagi seorang percaya, peran sebagai pemimpin mempunyai dimensi rohani karena kepemimpinan adalah tanggung jawab secara rohani dan orang-orang yang kita pimpin adalah amanah dari Tuhan yang harus dipertanggung-jawabkan suatu hari kelak (Mat. 25:14-30).
Sementara itu Robert Greenleaf memberikan definisi servant leadership sebagai:
“It begins with the natural feeling that one wants to serve, to serve first. Then conscious choice brings one to aspire to lead…The difference manifest itself in the care taken by the servant-first to make sure that other people’s highest priority needs are being served. The best test, and difficult to administer, is: do those served grow as persons, do they grow while being served, become healthier, wiser, freer, more autonomous, more likely themselves to become servants?” (Dimulai dengan perasaan yang natural bahwa seseorang yang ingin melayani harus terlebih dahulu melayani. Kemudian pilihan secara sadar membawa seseorang untuk memimpin. Perbedaan yang jelas dalam penekanan bahwa melayani terlebih dahulu, untuk memastikan kepentingan orang lain adalah prioritas untuk dilayani. Tes yang paling baik dan sulit untuk diatur adalah apakah mereka yang dilayani tumbuh secara pribadi, apakah mereka bertumbuh ketika dilayani, menjadi lebih sehat, bijak, bebas, lebih independen, lebih serupa dengan mereka sendiri untuk menjadi pelayan).
Seorang pemimpin Misi, dalam kepemimpinannya seharusnya meneladani Tuhan Yesus, memberikan hidupnya bagi kepentingan orang lain. Dirinya sendiri siap diutus oleh Tuhan Yesus ke dunia manapun dan dia sendiri juga melayani orang-orang yang dipimpinnya untuk menunaikan Amanat Agung Tuhan Yesus.

B. Kepemimpinan Misi yang memberikan Dampak
Prestasi lahiriah serta sukses seorang pemimpin Kristiani banyak tergantung pada kehidupan batinnya. Seorang pemimpin yang mementingkan diri sendiri, congkak, malas atau munafik tidak akan dapat memilki pengikut. Rasul Paulus menyatakan; “Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan iman yang tulus ikhlas” (1Timotius 1:5). Tujuan akhir dari segala petunjuknya adalah menghasilkan kasih terhadap orang lain, hati nurani yang baik dalam diri sendiri, serta iman sejati kepada Allah.
Sam E. Stone menuliskan; “Para pemimpin gereja harus memiliki sikap yang sehat karena mereka terus menerus dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan didalam hubungan dengan banyak orang. Tidak ada seorangpun yang selalu memaksakan cara atau kehendak sendiri, tidak ada seorangpun yang mengharapkan hal tersebut. Semangat untuk bekerja sama mengusahakan yang terbaik bagi banyak orang adalah penting. Bekerja dalam satu team sangat menentukan. Seorang pemimpin yang memiliki kasih yang suci akan mendatangkan hal yang baik bagi gereja dan orang-orang yang dipimpinnya.”
Prinsip yang membuat dampak demi pekerjaan Allah adalah semangat dan kesungguhan hati. Raja Hizkia dalam 2 Tawarikh 31:20-21 dikatakan; “Demikianlah perbuatan Hizkia di seluruh Yehuda. Ia melakukan apa yang baik, apa yang jujur, dan apa yang benar di hadapan TUHAN, Allahnya. Dalam setiap usaha yang dimulainya untuk pelayanannya terhadap rumah Allah, dan untuk pelaksanaan Taurat dan perintah Allah, ia mencari Allahnya. Semuanya dilakukannya dengan segenap hati, sehingga segala usahanya berhasil.”. Rasul Paulus juga menasehatkan hal yang serupa: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23).”
Le Roy Eims menegaskan: “Seorang pemimpin juga harus merenungkan fakta, apa yang dikerjakannya bukan hanya sedang membangun untuk masa sekarang melainkan juga untuk masa depan. Jika hatinya suam-suam kuku bagaimana masa depannya nanti? Bagaimana orang-orang yang dilatihnya nanti? Akankah hati mereka berkobar-kobar dengan semangat bagi Allah?” Kesungguhan hati dan semangat adalah luapan dari kasih yang membakar dalam hati kepemimpinan misi. Dari sana ia menyebar ke hati serta hidup orang lain yang turut merasakan kobarannya untuk memberitakan Injil kepada dunia.

III. KEPEMIMPINAN MISI DI GEREJA DAN LEMBAGA MISI

Kepeminpinan Misi yang bertanggung jawab dalam hidup dan pelayanannya yang pertama harus meluangkan waktu merenungkan untuk menemukan apa sebenarnya misi yang baru di dalam gerejanya. Dalam kehidupan seorang pemimpin misi dalah melakukan sesuatu untuk menyebarluaskan Kerajaan Allah, namun harus memastikan agar setiap anggota kelompoknya semakin mantap hidupnya dalam Tuhan dan menjadi anggota yang lebih produktif bagi perluasan Kerejaan Allah.
Le Roy Eims menuliskan: “Dalam memperluas Kerajaan Allah, seorang pemimpin harus menetapkan sasaran untuk mewartakan Injil di darah tempat gereja anda, mewartakan Injil ke setiap rumah di kota itu dan seterusnya. Lalu anda harus menjabarkan sasaran-sasaran ini menjadi tugas-tugas yang akan dikerjakan dan mencari orang-orang kunci untuk melaksanakannya. Berikan kewenangan kepada mereka untuk mengambil tindakan dan evaluasilah mereka dari waktu ke waktu untuk memastikan mereka melaksanakannya dengan baik.”

A. Pelipat Gandaan
Seorang pemimpin gereja yang memiliki hati misi akan membina jemaatnya menjadi
jemaat yang misioner, Amanat Agung Tuhan Yesus menjadi satu semboyan yang terus disuarakan oleh pemimpin tersebut. Membina jemaat yang misioner berarti mengorganisasikan kegiatan warga gereja, melengkapi dan melatih mereka agar mampu menghadirkan Kerajaan Allah dan mengajak orang banyak menyambut Kristus sebagai Juruselamat. “Pemuridan” menjadi satu bagian yang penting bagi seorang Pemimpin untuk menggerakkan jemaat melaksanakan Amanat Agung.
Dr. Maitimoe mengatakan: “Bila kita mempelajari kesaksian Alkitab mengenai ‘pemuridan’ atau mengenai pertumbuhan jemaat-jemaat baru, maka yang pertama-tama nampak ialah bahwa manusia adalah alamat (sasaran), sekaligus juga pelaksana dalam membangun dan membina jemaat misioner. Ini adalah strategi misioner yang dikembangkan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya.
Seorang pemimpin misi dalam strateginya akan mendorong dan memberikan kesempatan kepada warga gereja untuk berkembang dimana saja. Misalnya jemaat dimotivasi untuk mengembangkan persekutuan di kampung, di desa, di kota lain, kompleks perumahan, di tempat transmigrasi, kompleks industri, di kampus universitas. Dalam pengalaman perkembangan gereja, pertumbuhan gereja dengan cara seperti ini menunjukkan hasil yang positif. Pertumbuhan gereja yang besar selalu dimulai dengan proses kelompok-kelompok kecil yang dirintisnya. Kelompok-kelompok persekutuan kecil akan banyak membutuhkan pemimpin, maka warga jemaat yang sudah dimuridkan untuk menjadi jemaat misioner diorganisir untuk memimpin dan membangun kelompok-kelompok kecil tersebut. Pengorganisasian seperti tersebut di atas sangat baik sehingga pemimpin akan memiliki partner untuk memberitakan Kerajaan Allah semakin luas.
“Gembala, pemimpin, murid – hal terbaik yang harus dilakukan adalah mencari 12 orang itu untuk Anda ajarkan pelatihan ini. Firman Allah dan Roh Kudus akan menyatukan iman dan komitmen setiap orang, dan mentransferkan karakter Kristus di dalam kelompok Anda melalui pemuridan ini, sebelum Anda melepas mereka yang siap untuk memenangkan 12 orang lagi, sementara Anda tetap dalam persekutuan dengan mereka sebagai kelompok Anda yang tetap.
Lihatlah betapa luar biasa kekuatan G12 ini:
Bila Anda mengajar diri Anda sendiri, maka hanya 1 orang mendengar firman Tuhan.
Bila Anda membagikan pelajaran kepada 12 orang, maka 13 orang mendengar firman Tuhan.
Bila 12 orang itu masing-masing mengajar 12 orang lagi, maka 157 orang mendengar firman Tuhan. Bila 157 orang itu masing-masing mengajar 12 orang lagi, maka 1.884 orang mendengar firman Tuhan. Bila 1.884 orang itu mengajar 12 orang lagi, maka 22.608 orang mendengar firman Tuhan. Hal ini terjadi di Cina, dan terus terjadi hari ini di Amerika Latin dan Afrika, di mana “Pelatihan Pelipatgandaan” seperti ini terbukti menjadi satu-satunya cara yang paling efektif untuk mengajarkan ribuan orang yang memutuskan untuk mengikut Kristus.”
Sebelum Tuhan Yesus memilih 12 Rasul-Nya, Ia berdoa sepanjang malam (Lukas 6:12-13). Rasul Paulus mengatakan kepada Timotius: “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain (2 Timotius 2:2).”
Dalam memuridkan jemaat untuk pelipat gandaan, George Peterson menuliskan: “Siapkan bahan-bahan pendidikan pada tingkat pendidikan yang tepat, yang mudah dipelajari. Jangan langsung mengirim murid-murid ke luar dari daerah lain untuk memmulai gereja baru, tetapi mengirim mereka ke gereja-gereja lokal atau persekutuan-persektuan yang ada untuk membantu gereja tersebut berlipat ganda. Murid-murid harus bekerja dibawah seorang mentor pada sebuah persektuan-persektuan yang dimulainya.”
Dengan metode ini, seorang pemimpin dapat melatih banyak orang, untuk menjadi orang percaya yang dewasa rohani, dan yang bersedia pergi melakukan pekerjaan pelayanan, menginjili, memuridkan untuk menyebarluaskan Injil. Sehingga pemimpin memiliki team di dalam pekerjaannya dan penjangkauan dunia bagi Kerajaan Allah semakin meluas.

B. Penjangkauan Lintas Budaya
Dengan kedatangan Tuhan Yesus ke dunia dan kebangkitan-Nya terlah terjadi sesuatu yang sama sekali baru, yang belum pernah terjadi lebih dahulu dalam sejarah Israel, dan sejarah dunia. Janji tentang “datangnya berduyun-duyun bangsa-bangsa” telah dinyatakan oleh kedatangan Yesus Kristus, dan para muridnya keluar untuk membuat sekalian bangsa menjadi murid-murid Tuhan Yesus. Gereja Tuhan mulai didirikan dan berkembang di seluruh dunia. Jemaat Kristen adalah mobil dan fleksibel yang merasa menjadi jemaat yang sejati jika merasa diutus oleh Tuhan, ditempatkan dan diutus di dunia untuk memproklamirkan pemerintahan Kristus yang didasarkan atas pengorbanan dan cinta kasih-Nya. Gereja harus terbuka dan tidak menutup mata kepada daerah atau suku-suku yang lain untuk dimenangkan bagi Kristus.
Salah satu cara untuk memperluas penjangkauan dunia adalah dengan pelayanan lintas budaya. Gereja hendaknya dimobilisasi untuk mendoakan dan melihat daerah lain yang berbeda sama sekali dengan gereja lokal. Paul Borthwick menuliskan: “Anjuran sederhana yang lain untuk memperluas Injil adalah mengunjungi daerah yang berbeda di kota kita. Mengunjungi satu daerah yang berbahasa lain atau sebuah pemukiman suku tertentu, mengingatkan bahwa dunia kita bukanlah dunia satu-satunya. Pada waktu kita mengunjungi satu daerah yang berbeda, kita akan memperluas visi kita untuk memberitakan kebenaran kepada mereka.”
H. Venema menuliskan; ” Walaupun para rasul mendapat tugas yang begitu jelas bagi mereka, tetapi mereka ragu melewati batasan-batasan bangsa Yahudi. Roh Kristus harus selalu mendorong mereka untuk membuat langkah berikutnya. Tidak ada gunanya mempersalahkan mereka karena mengabaikan tugas. Mereka tidak malas, tetapi mereka terlalu berat untuk melewati batasan-batasan Yahudi.”
Orang Kristen mula-mula memang benar-benar mempercayai Juruselamat dan bersedia mengikuti-Nya, dengan memikul salib penganiayaan dan penderitaan (Lukas 14: 25-27; Kis 4, 5, 7, 12 dst), tetapi sebagai bangsa Yahudi mereka merasa terikat kepada kebiasaan-kebiasaan yang sudah berlaku dari zaman dahulu. Sulit melepaskan diri dari semua kebiasaan itu, atau menganggap bahwa semuanya itu tidak penting lagi (Kis 10:15 dan 15:11). Itulah sebabnya mereka tinggal di Yerusalem dan tidak mengambil inisiatif untuk pergi.
Yesus Kristus sebagai pemimpin Misi yang sejati mengantisipasi masalah tersebut dengan mencurahkan Roh Kudus. Betepa bijaksananya pertolongan Roh Kristus ini. Tuhan menggunakan situasi penganiayaan di Yerusalem, untuk meneruskan pemberitaan Injil di seluruh daerah Yudea dan Samaria. Dengan ini kendala pertama bisa dilewati.
Kendala yang berikutnya adalah Injil diberitakan kepada orang-orang Yahudi saja. Hanya secara insidental saja Kabar Baik diberitakan kepada orang non-Yahudi (Kis 8:5-40). Lalu Roh Kudus bertindak lagi menolong jemaat, khususnya rasul-rasul, supaya melewati batasan-batasan ke-Yahudi-an. Kisah 10 dan 15, menceritakan pertemuan Rasul Petrus dan Kornelius, seorang perwira Romawi. Peristiwa ini menjadi awal pemberitaan Injil kepada bangsa lain. Mulai dari saat itu, Injil diberitakan kepada masyarakat non Yahudi. Di Anthiokia ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang memberitakan Injil kepada orang Yahudi. “Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang yang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan (Kis 11:20-21).” Di Anthiokia-lah orang-orang percaya untuk pertama kalinya disebut Kristen (Kis 11:26).
Kemudian Roh mengangkat Rasul Paulus dan Barnabas untuk tugas yang telah ditentukan Tuhan bagi mereka (Kis 13:2). Mereka bergerak untuk mengabarkan Injil di daerah siprus, Pisidia dan daerah-daerah lain. Di seluruh daerah itu Firman Tuhan diberitakan. Jumlah orang yang menjadi percaya menjadi cukup besar (Kis 14:23). Disetiap jemaat mereka menetapkan penatua-penatua. Setelah pulang ke Anthiokia di Siria, mereka melaporkan segala sesuatu yang Allah kerjakan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Allah telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada Tuhan Yesus.
Sebagai pengikut Kristus yang memiliki jiwa Misi, ketika berada di daerah baru hendaknya bersikap luwes terhadap semua orang. Tidak perduli bagaimana perbedaannya budaya dan lingkungan yang ada, tujuannya adalah bisa mendekati mereka dan memenangkan jiwa mereka.
Berikut data statistik agama-agama di Asia menurut program Sabda yang harapannya menjadi pertimbangan dan mencari peluang untuk memperluas Kerjaan Allah:
“Agama, Agama Islam, Hindu dan Budha telah berubah menjadi pusat perhatian seiring dengan kegagalan politik sosialis dan Marxis di banyak negara. Hal ini telah mengakibatkan meningkatnya diskriminasi terhadap agama-agama minoritas serta sumbangan dana untuk membiayai kegiatan-kegiatan misionaris mereka—demi memperoleh penganut-penganut baru dari suku-suku minoritas serta menyebarluaskan ajaran mereka ke seluruh dunia. Di Asia Selatan dan Asia Tenggara sikap tidak bertoleransi antar agama semakin menyolok.
Tidak beragama, 25,4%, 742 juta. Ada 5 negara Asia yang masih merupakan negara komunis secara politik, tetapi beberapa sedang beralih ke sistem ekonomi pasar. Hanya Mongolia yang menolak komunisme tetapi pemimpinnya tetap sama. Penganiayaan terhadap orang-orang beragama berbeda-beda, mulai dari tekanan total terhadap agama di Korea Utara sampai kepada penganiayaan terhadap gereja-gereja yang tidak terdaftar di Cina dan Vietnam hingga sedikit toleransi di Laos dan Kamboja setelah th. 1978.
Hindu, 24,2%, 713 juta. Merupakan agama mayoritas di India, Nepal dan Bali (Indonesia) dan agama minoritas yang berpengaruh di empat negara lain.
Budha dan agama-agama Asia Timur, 20,9%, 609 juta. Batasan antara agama Budha, Tao di Cina, Shinto di Jepang dan agama-agama lain yang serupa sulit ditentukan, sehingga semuanya itu terhitung dalam jumlah tersebut di atas. Kebanyakan penganut agama-agama itu tinggal di Bhutan, Kamboja, Jepang, Laos, Myanmar, Srilanka, Thailand dan Vietnam.
Islam, 17,9%, 527 juta. Islam adalah agama mayoritas di tujuh negara:
Afganistan, Bangladash, Brunei, Indonesia, Malaysia, Maladewa dan Pakistan; juga merupakan agama minoritas yang berpengaruh di 14 negara lain.
Animisme, 2%, 57 juta. Terutama di antara suku-suku minoritas yang terasing, yang tersebar di seluruh kawasan Asia. Agama Hindu dan Budha banyak dipengaruhi oleh pandangan animisme terhadap dunia.
Agama-agama baru,1,25%, 44 juta. Ada banyak agama sinkretisme (campuran) yang muncul di Jepang, Korea dan Vietnam dalam abad yang ke-20 ini.
Sikh, 0,56%, 16,5 juta. Baha’i 0,08%, 2,2 juta.
Kristen, 7,8%, 229 juta. Gabungan 7,3%, 215 juta. Pertumbuhan 4,9%. Merupakan mayoritas hanya di Filipina tetapi pertumbuhan yang cepat terjadi di Korea, Indonesia, Cina dan Singapura.
Protestan, 4,3%, 127 juta. Gabungan 3,9%, 115,2 juta. Pertumbuhan 6,1%. Persentasi orang Protestan terbesar terdapat di Korea dan Indonesia tetapi hampir setengah dari orang Protestan di Asia berada di Cina. Pertumbuhan orang Injili 7%, Pentakosta 6,7%. Misionaris: ke negara-negara Asia (termasuk misionaris dari Asia dan dari belahan dunia yang lain) 17.059 (1:172.000 orang). dari Asia (termasuk misionaris yang melayani di negerinya sendiri dan di negara-negara lain) 23.681 (1:4.900 orang Protestan) 3.461 ke luar negeri, 9.593 lintas budaya, 14.088 lokal.
Roma Katolik, 2,9%, 85 juta. Gabungan 2,8%, 82 juta. Pertumbuhan 3,5%. Mayoritas orang Katolik Roma ada di Filipina, sejumlah besar ada di India, Vietnam dan Srilanka. Misionaris: ke negara-negara Asia (termasuk misionaris dari Asia dan dari belahan dunia yang lain) 10.909 (1:154.000 orang). dari Asia (termasuk yang melayani di negerinya sendiri dan di negara-negara lain) 7.542 (1:10.000 orang Katolik Roma).
Golongan Katolik yang lain, 0,17%, 5 juta. Pertumbuhan 1,5%.
Ortodoks, 0,08%, 1,78 juta. Pertumbuhan 1,25%. Hampir semua orang India dari golongan Ortodoks Siria, tinggal di negara bagian Kerala, India.
Sekte dan bidat, 0,37%, 10,6 juta. Pertumbuhan 6%. Termasuk kelompok-kelompok
Filipina dan Cina, juga Mormon dan Saksi Jehovah.”
Dengan adanya data di atas, Seorang pemimpin misi akan menggerakkan jemaatnya untuk berdoa bagi para misionaris terutama di daerah-daerah yang sulit dan menolak Kekristenan. Memobilisasi gereja untuk mendukung tenaga misionaris yang ada dalam tugas penginjilan di antara suku-suku yang belum terjangkau oleh Injil baik di negara sendiri maupun negara lain.

IV. CONTOH GEREJA/LEMBAGA MISI YANG MELAKUKAN MISI

Dr. Arie de Kuiper menuliskan: William Carey (1761-1834) mendirikan Baptist Misionary Society pada tahun 1792 dan ia sendiri diutus sebagai misionary pertama ke India, diamana dia bekerja sama dengan Joshua Marshman dan William Ward di Sampore. Prinsip-prinsip mereka ada lima:
1. Pekebaran Injil seluas-luasnya dan dengan cara apapun.
2. Penyebaran Kitab Suci dalam bahasa setempat (Carey sendiri menterjemahkan seluruh Alkitab dala tiga bahasa).
3. Didirikannya Gereja Baptis secepat mungkin.
4. Penelitian latar belakang orang-orang yang bukan Baptis
5. dan pendidikan teheologia.
Semboyannya adalah “Attempt great things for God; expetc great things from God” (Usahakanlah perkara-perkara besar bagi Allah; nantikanlah perkara-perkara besar dari Allah). Kemudian didirikanlah London Missionary Society (LSM, 1795) yang bersifat interdenominational (antar-gereja) dan memulai pekabaran PI di Tahiti (1797), Afrika Selatan (1798), India (1804), Tiongkok dan Gunaya (1807), Malagasi (1820) dan Jamaika (1837). Policy (kebijaksanaan) LSM adalah sesegera mungkin mendewasakan gereja setempat. Diantara utusan-utusannya patut disebut adalah; Joh.Th. Van der Kemp yang pada tahun 1797 mendirikan Nederlands Zendeling Genootschap (NZG) dan David Living Stone (1813-1873). William Carey dalam seluruh hidupnya melayani misi di India, Terjemahan Carey dan karya cetakannya “membuat Alkitab tersedia bagi lebih dari tiga ratus juta orang”. Pada waktu meninggal, setelah lebih dari 40 tahun melayani di India, ia telah menyerjemahkan Alkitab ke dalam tiga bahasa utama di India, telah mendirikan apa yang kemudian menjadi koran terbesar di India, telah mendirikan Persatuan Gereja Baptis yang kuat dan berhasil di India, telah mendidikan apa yang kemudian menjadi seminari terbesar di India, dan telah melakukan lebih banyak dari yang dapat dilakukan oleh individu manapun dalam membawa berita Injil Kristus ke bagian benua tersebut. Ia adalah seorang tukang sepatu yang sederhana yang memegang Firman Allah, dan ketaatannya memberikan pengaruh yang tak terhingga kepada seluruh dunia. Demikian salah satu contoh lembaga/gereja yang mendirikan badan misi untuk dunia, dengan kepemimpinan yang hebat, maka pekerjaan pemberitaan Injil dirasakan kuat dan berhasil.

V. PENUTUP

Nama “Mother Teresa” sudah menjadi padan kata dengan pelayanan yang disertai dengan pengorbanan di dalam dunia dewasa ini. Dunia pada umumnya menolak konsep kepemimpinan yang melayani yang ditunjukkan oleh wanita ini. Namun dengan melayani orang-orang termiskin dari yang miskin, ibu Teresa sudah mendapat jutaan pengikut, ini merupakan bukti dari kepemimpinan yang melayani.
Billy Graham mengatakan: “Tiap bentuk pengorbanan demi pengorbanan akan tetap mewarnai kehidupan seorang penginjil keliling. Keletihan oleh sebab perjalanan jauh, kesepian karena terpisah dari keluarga dan kawan-kawan, frustasi terhadap teman sekerja, keadaan tempat tinggal yang tidak memenuhi syarat, hasil yang mengecewakan, semuanya itu dapat muncul dalam kehidupan seorang penginjil” Seorang penginjil yang bersikap tahan uji, ulet dan penuh pengorbanan dalam melaksanakan kewajibannya akan membuahkan pahala yang mulia. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan di dunia ini daripada mendengar Tuhan kita berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia (Matius 25:21).”
Dalam kepemimpinan misi, memikul salib dan ketekunan adalah semboyan yang dipegang selama hidupnya, teladan pengorbanan Tuhan Yesus menjadi penggerak di dalam pelayanan dan kepemimpinannya. Kepemimpinan hamba seperti Tuhan Yesus menjadi model yang tepat bagi seorang pemimpin dalam pelayanannya. Menjalankan Missio Dei selama hidupnya bagi kemuliaan Allah. Seorang pemimpin misi harus terlibat dalam program yang dikerjakannya. Seorang pemimpin harus menyingsingkan baju dan membantu yang lain. Melibatkan diri dalam pekerjaan akan memberi pengaruh kuasa kepada orang-orang yang dipimpinnya.Sehingga keteladananya akan membuahkan hasil dengan baik.
Kepemimpinan yang sejati adalah kepemimpinan yang memberi dampak yang baik bagi orang-orang disekitarnya, memiliki semangat yang kuat dan mempengaruhi bawahannya untuk tetap memberitakan Injil Keselamatan kepada segala bangsa. Meskipun banyak mengalami tantangan, namun seorang pemimpin hendaknya tetap berkobar-kobar tetap dalam panggilannya dan memotivasi orang-orang yang dipimpinnya untuk memiliki spirit Injil yang kuat.
Dalam kepemimpinan misi di gereja, sebaiknya memiliki sebuah team demi menjangkau dunia yang luas bagi Kerajaan Allah. Pemuridan dan pendelegasian menjadi sebuah strategi untuk menjalankan organisasinya. Jemaat yang dipimpinnya dimuridkan dan dimotivasi untuk mengembangkan persekutuan di daerah baru yang belum ada kekristenan. Prinsip G 12 adalah salah satu metode untuk menjalankan misi yang melibatkan warga gereja yang sudah muridkan untuk membuka persekutuan baru.
Penginjilan Lintas Budaya merupakan bentuk misi yang harus dikembangkan dalam kepemimpinan misi, sesuai dengan Firman Tuhan Injil adalah untuk semua bangsa. Gereja harus dimotivasi untuk membayar harga demi penjangkauan suku-suku terabaikan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dukungan doa, dana dan daya bagi pekerjaan penjangkauan suku terabaikan dapat menjadi program kegerakan misi gereja. Sehingga gereja dapat terlibat langsung untuk penginjilan Lintas Budaya.
Contoh-contoh Gereja/Lembaga yang melakukan misi yang kiranya dapat menjadi pendorong bagi seorang pemimpin misi, ketika mengalami stagnasi, kejenuhan dan keputus-asaan mendapat semangat kembali dan bisa mencontoh, strategi dan program yang dilakukan dalam mendukung keberhasilan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Charles R. Swindoll, Kepemimpinan Kristen yang Berhasil, Yakin, Surabaya.
2. http://www.dummies.com/how-to/content/leadership-for-dummies-cheat-sheet.
3. Sam E. Stone, Pemimpin Gereja yang Berhasil, Literatur Gereja Jemaat Kristus Indonesia, Yogyakarta, 2007.
4. Le Roy Eims, Jadilah Pemimpin Sejati, Gospel Press, Batam, 2001.
5. H. Venema, Injil Untuk Semua Orang, Jilid I, Yayasan Bina Kasih, Jakarta, 1997.
6. http://en.wikipedia.org/wiki/Servant_leadership.
7. John MacArthur, Kitab Kepemimpinan: 26 Karakter Pemimpin Sejati (Jakarta: BPK, 2009).
8. Dr. Maitimoe, Membina Jemaat Misioner, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1986.
9. http://www.worldchristians.org/indonesian/ind-kenyasom.htm
10. George Patterson, Prinsip-Prinsip Pelipatgandaan berdasarkan Alkitab, Literatur Sekolah Tinggi Theologia Jemaat Kristus Indonesia, 1986.
11. Paul Borthwick, Memberitakan Injil, Tugas Siapa?, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1987.
12. H. Venema, Injil Untuk Semua Orang, Jilid I, Yayasan Bina Kasih, Jakarta, 1997.
13. Program Sabda 2008.
14. Dr. Arie de Kuiper, Missiologia, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1998.
15. Billy Graham, Beritakan Injil, Lembaga Litratur Baptis&Yayasan Andi, Yogyakarta, 2000.

About STTJKI

SUCI, IMAN, AKADEMIS, PRAKTIS

Posted on October 14, 2011, in PEMURIDAN and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,152 other followers

%d bloggers like this: