Kasih Yang Rela Berkorban

EKSPOSISI GALATIA 4:12-20
Gulang Wibisono, S.Th.

LATAR BELAKANG KITAB GALATIA
Penulis
BYZ Galatians 1:1 Pau/loj avpo,stoloj ouvk avpV avnqrw,pwn( ouvde. diV avnqrw,pou( avlla. dia. VIhsou/ cristou/( kai. qeou/ patro.j tou/ evgei,rantoj auvto.n evk nekrw/n(
ITB Galatians 1:1 Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati,
Semua mengakui bahwa penulis Surat Galatia adalah Paulus. Secara tradisi Galatia diterima sebagai satu dari 4 surat utama Paulus (Roma, 1 dan 2 Korintus dan Galatia) Galatia menjadi patokan untuk menilai apakah surat-surat lainnya dapat diterima sebagai tulisan paulus atau tidak.
Ditujukan kepada
Surat ini ditujukan kepada Jemaat-jemaat di Galatia (1:2),
BYZ Galatians 1:2; kai. oi` su.n evmoi. pa,ntej avdelfoi,( tai/j evkklhsi,aij th/j Galati,aj
ITB Galatians 1:2 dan dari semua saudara yang ada bersama-sama dengan aku, kepada jemaat-jemaat di Galatia.
Nama Galatia berasal dari nama bangsa Kelt, yang sejak 279 sM. Memasuki Asia Kecil (negeri Turki sekarang). Bangsa ini berasal dari Eropa.
Surat ini ditulis Rasul Paulus kepada jemaat-jemaat Galatia yang menerima Kabar baik dari dirinya sendiri. Paulus memperingatkan mereka, agar waspada terhadap ajaran dan serangan-serangan para lawan Paulus, terhadap orang-orang ke-Yahudian, bukan orang-orang Yahudi yang sudah menjadi Kristen.
Waktu Penulisan dan Tempat Penulisan
Ada beberapa pendapat dari para ahli Perjanjian Baru tentang waktu dan tempat penulisan Surat Galatia; Andaikata jemaat-jemaat Galatia terletak di bagian Selatan wilayah Galatia (Kis. 13:4-14-26), maka mungkin surat Galatia ini disusun sebelum perundingan-perundingan yang tertera dalam Kis 15, sehingga perkunjungan Paulus yang diceritakan dalam Gal. 2-10 adalah sama dengan perkunjungan yang disebut Kis. 11:30, 12:24. Surat Galatia kemungkinan di tulis di Antiokhia (Siria) dalam tahun ± 48. dan merupakan Kitab tertua dalam PB.
Akan tetapi mungkin juga Surat Galatia disusun sesudah perundingan tersebut dalam Kis 15, yaitu pada perjalanan Paulus ke dua, boleh jadi di penulisannya di Korintus dalam Tahun 50.
Kemungkinan lain ialah jemaat-jemaat di Galatia terdapat di daerah Galatia Utara. Sarjana-sarjana mendukung teori ini, bahwa Paulus atas perjalanannya yang kedua melalui Galatia (Kis. 16:6) serta mendirikan jemaat di daerah itu. Jika kata Yunani dalam Gal. 4:13 diterjemahkan dengan ”pertama kali” (ro,teron adjective accusative neuter singular comparative from pro,teroj, a, on.—For Gal 4:13 the first time and once are both possible). Maka kesimpulannya bahwa Paulus menulis Surat Galatia ini setidak-tidaknya pada perjalannya yang kedua ke situ, jadi dalam teori “Galatia Utara” pada perjalanan Paulus ke tiga (setelah Kis18:23), mungkin selama Paulus tinggal di Efesus (± 53-56 M.).
Alasan Penulisan
Paulus menulis surat yang sangat penting ini, karena orang-orang Kristen di Galatia telah menyimpang dari pengertian yang benar tentang iman Kristen (Gal 1:6). Mereka dalam bahaya besar karena ada orang-orang yang memutarbalikkan kebenaran Injil tentang kemerdekaan Kristen, dengan peraturan yang telah disahkan orang Yahudi. Diantara peraturan ini, sunat menduduki tempat terpenting; dalam peraturan itu juga termasuk perhatian akan penanggalandibingungkan oleh ke-Yahudian yang ingin membebani mereka dengan kebiasaan sunat dan dengan menaati hukum-hukum Yahudi lainnya (Gal 3:1) yang mengatakan bahwa hanya dengan jalan ini mereka dapat menikmati hubungan istimewa dengan Allah. Paulus sangat yakin jika mereka bersandar pada hukum Yahudi dalam hubungan mereka dengan Allah, berarti mereka menyangkal inti Injil, yaitu bahwa hubungan Allah dengan manusia bergantung pada iman, bukan pada perbuatan. Dalam surat ini Paulus menjelaskan hubungannya dengan gereja di Yerusalem. Ia juga menerangkan tentang sifat kebebasan Kristen yang timbul apabila orang Kristen beriman terhadap Kristus dan bukan mencoba untuk menyenangkan Allah melalui ketaatan kepada hukum Taurat.
EKSPOSISI GALATIA 4:12-20
ITB Galatians 4:12 Aku minta kepadamu, saudara-saudara, jadilah sama seperti aku, sebab akupun telah menjadi sama seperti kamu. Belum pernah kualami sesuatu yang tidak baik dari padamu.

(12) Dalam perikop ini Rasul Paulus menyapa Jemaat Galatia dengan ungkapan“saudara-saudaraku”kata (adelpha) avdelfoi, kata benda vocatif maskulin jamak biasa dari kata avdelfo,j adelphos {ad-el-fos’}, berarti saudara karena kepercayaan yang sama (a fellow believer), saudara dalam Kristus, orang-orang Kristen yang sama-sama ditinggikan (Christians, as those who are exalted to the same heavenly place), menunjukkan kedekatan hubungan dengan mereka, tapi juga mengingatkan posisi mereka yang istimewa sebagai orang percaya sama seperti Paulus.
ITB Galatians 4:13 Kamu tahu, bahwa aku pertama kali telah memberitakan Injil kepadamu oleh karena aku sakit pada tubuhku.

ITB Galatians 4:14 Sungguhpun demikian keadaan tubuhku itu, yang merupakan pencobaan bagi kamu, namun kamu tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang hina dan yang menjijikkan, tetapi kamu telah menyambut aku, sama seperti menyambut seorang malaikat Allah, malahan sama seperti menyambut Kristus Yesus sendiri.

ITB Galatians 4:15 Betapa bahagianya kamu pada waktu itu! Dan sekarang, di manakah bahagiamu itu? Karena aku dapat bersaksi tentang kamu, bahwa jika mungkin, kamu telah mencungkil matamu dan memberikannya kepadaku.

(13-15) Paulus mengingat bagaimana dia pertama kali bertemu dengan jemaat Galatia dan memberitakan Injil kepada mereka, ketika dia dalam keadaan lemah karena sakit. Kata (astheneian) avsqe,neian kata benda akusatif feminim tunggal biasa dari kata avsqe,neia astheneia {as-then’-i-ah}, berarti kekuatan kurang, lemah, cacat dari tubuh, kondisi yang kurang sehat, menanggung penderitaan. Menurut orang Korintus keadaan fisik Paulus yang lemah, sebagai akibat dari siksaan yang keji (2 Kor 10:10). Cerita-cerita tertua mengatakan bahwa penderitaan Paulus itu berupa sakit kepala yang sangat berat dan sangat melemahkan. Bahkan dari perikop ini ada dua petunjuk muncul . Kata-kata yang sekarang diterjemahkan dengan ”kamu tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang menjijikkan” sebenarnya secara harafiah berarti : “kamu tidak meludahi aku”. Dalam dunia kuno ada suatu kebiasaan bahwa orang harus meludah bila bertemu dengan orang yang berpenyakit ayan; maksudnya untuk menghindarkan diri dari roh jahat yang diduga menghinggapi si penderita. Dengan pemakaian kata-kata tersebut di atas, maka Paulus sebenarnya juga telah dianggap sebagai seorang yang berpenyakit ayan. dan sekiranya mungkin orang-orang Galatia pasti telah memberikan mata mereka kepada Paulus. Hal itu dapat terjadi karena ada dugaan bahwa Paulus terlalu sering melewati Jalan Raya Damsyik, dimana ia pernah mengalami peristiwa yang kena mengena dengan matanya. Paulus selalu mendapat kesulitan karena matanya yang disilaukan oleh peristiwa itu. Karena itu penglihatan Paulus hanya samar-samar dan selalu disertai rasa sakit.
ITB Galatians 4:16 Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?

(16) Orang-orang Galatia pada waktu itu benar-benar mengasihi Paulus, tetapi sekarang seakan-

akan mereka menjadi musuh karena Paulus mengatakan kebenaran kepada mereka. Kata evcqro.j

ajektif normal nominatif maskulin tunggal tidak langsung dari kata Evcqro,j (echthros),

berarti ”lawan, dibenci (hatred), musuh.” Kebenaran Injil tidak dapat disesuaikan dengan

ajaran-ajaran lain, makanya kebenaran itu menimbulkan perlawanan.

ITB Galatians 4:17 Mereka dengan giat berusaha untuk menarik kamu, tetapi tidak dengan tulus hati, karena mereka mau mengucilkan kamu, supaya kamu dengan giat mengikuti mereka.

ITB Galatians 4:18 Memang baik kalau orang dengan giat berusaha menarik orang lain dalam perkara-perkara yang baik, asal pada setiap waktu dan bukan hanya bila aku ada di antaramu.
(17-18) Kata (zeloosin) zhlou/sin kata kerja present indikatif aktif orang ke3 jamak dari kata zhlo,w (zeloo), berarti ”menjadi cemburu, mengikuti, berusaha untuk…”
Dalam perkembangan ini orang-orang Yudais memegang peranan penting. Untuk mengusahakan supaya ajaran mereka diterima maka mereka mengkambinghitamkan Paulus (band. 1:10-12). Dengan demikian percaya kepada mereka sama dengan menolak Paulus. Dalam hal ini orang-orang itu sangat rajin memikat orang-orang Galatia.
ITB Galatians 4:19 Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.
(19) ”Anak-anakku”kata-kata pengecil dalam bahasa Latin dan Yunani selalu mengungkapkan perasaan yang dalam. Kata Tekni,a (teknia) kata benda vokatif neuter jamak dari kata tekni,on teknion {tek-nee’-on}, berarti ”anak-anak kecil, satu panggilan yang penuh kasih dari guru kepada para muridnya”. Yohanes seringkali menggunakan kata-kata seperti itu; tetapi Paulus hanya memakainya dalam perikop ini. Di sini hatinya telah meluap-luap. Perlu kita catat bahwa Paulus tak pernah mengumpat dengan kata-kata yang pedas, karena ia sangat mendambakan anak- anaknya yang sesat. Kasih yang mendalam pasti akan dapat menerobos segala hal yang tak tersapa oleh suara-suara kemarahan. Paulus seakan-akan menderita sakit bersalin lagi, kata wvdi,nw kata kerja indikatif present aktif orang ke1 tunggal dari kata wvdi,nw odino {o-dee’-no}, berarti ” merasakan sakitnya melahirkan anak, sakit bersalin”. Beberapa kali Paulus menyebut dirinya bapa (I Kor. 4:15; I Tes.2:11; Flm. 10) yang memperanakkan orang-orang percaya, di sini ia membandingkan dirinya dengan seorang ibu yang sedang melahirkan anaknya, dan dengan demikian ia menitikberatkan pada keterharuannya, kekuatirannya. Sekali lagi haruslah orang-orang Galatia itu dilahirkan sebagai anak-anaknya, yaitu sebagai anak-anak yang serupa dengan Kristus (band. Flp.3:10,21; Rm.8:29; 6:8; 8:17; Kol. 2:12; 3:1; Gal.2:19; 2 Kor.3:18).
ITB Galatians 4:20 Betapa rinduku untuk berada di antara kamu pada saat ini dan dapat berbicara dengan suara yang lain, karena aku telah habis akal menghadapi kamu.

(20) Perasaan Paulus yang penuh kasih itu melimpah sekali. Ia ingin berada diantara mereka, kata h;qelon (eth-el-on) kata kerja indicatif imperfek aktif dari kata qe,lw thelo {thel’-o} eqe,lw ethelo {eth-el’-o}, berarti ”memiliki keinginan yang kuat, bertekad, mengharapkan, mengasihi, dengan senang”. Tetapi itu tidak mungkin, kalau ia di tengah-tengah mereka maka ada kesempatan untuk bertukar pikiran dalam suasana tenang (band. I Kor.4:21; 2 Kor.10:9-11; 12:21;13:10). Tetapi kesempatan untuk bergaul langsung dengan orang-orang Galatia itu tidak terbuka bagi Paulus, sehingga terpaksa ia melakukannya dengan perantaraan suatu surat. Dari nada surat itu kedengaran kepada kita bahwa inilah usaha terakhir bagi Paulus untuk meyakinkan orang-orang Galatia. Praktis ia sudah habis akal.

APLIKASI GALATIA 4 :12-20
Kasih yang rela berkorban
Rasul Paulus memulai perikop ini dengan permintaan agar Jemaat-jemaat Galatia yang dia kasihi bahkan disapa sebagai saudara menjadi seperti dia karena dia telah lebih dahulu menjadi seperti mereka, sebagai orang Yahudi tidaklah mudah bagi Paulus untuk bergaul bahkan mengasihi orang yang bukan Yahudi seperti Jemaat-jemaat Galatia. Hanya kasih Yesus yang memungkinkan semua itu. Perikop ini berisi argumentasi Paulus berdasarkan perasaannya sebagai Rasul.
Paulus tidak membuat imbauan teologis tetapi imbauan pribadi. Ia mengingatkan bahwa demi merekalah ia telah menjadi non-Yahudi; ia telah melepaskan diri dari tradisi-tradisi yang dikenalnya sejak kecil; ia menjadi sama seperti mereka dan itulah sebabnya ia menghimbau mereka untuk tidak menjadi Yahudi, tetapi menjadi sama seperti dia.
Paulus adalah seorang bapa rohani yang baik; ia pandai mengimbangi teguran dengan kasih. Sekarang ia beralih dari “pukulan” ke “pelukan”sementara ia mengingatkan orang-orang percaya akan kasih mereka kepadanya. Pada suatu saat mereka bersedia mengorbankan apapun bagi Paulus. Demikian besarnya kasih mereka, tetapi sekarang mereka telah menjadi musuhnya. Para penganut Yudaisme telah datang dan mencuri kasih mereka.
Kasih yang melimpah yang dimiliki Paulus untuk Jemaat Galatia digambarkan seperti hubungan ibu dan anaknya, ungkapan “anak-anakku”dan ”menderita sakit bersalin” menunjukkan pengorbanan yang dirasakan Paulus merupakan bukti dari betapa besarnya kasih dia kepada Jemaat-jemaat Galatia.
Sebagai perintis ataupun gembala Jemaat diperlukan kasih yang besar dari para hamba Tuhan yang melayani, kadang kekecewaan karena Jemaat tidak tumbuh seperti yang diharapkan sering membuat seorang hamba Tuhan putus asa, semua pengorbananpun terasa sia-sia saja.
Hamba Allah yang sejati tidak “memanfaatkan orang”untuk membesarkan diri atau pekerjaannya; ia melayani di dalam kasih untuk menolong orang mengenal Kristus dengan lebih baik dan memuliakan dia.
Marilah kita belajar dari Sang Guru Agung kita yang kasihNya melimpah bahkan rela mati untuk menebus dosa manusia. Ketika kita merasa kurang mengasihi biarlah Dia yang telah lebih dulu mengasihi kita, melimpahkan kasihNya. Kasih yang rela berkorban untuk orang-orang yang bahkan tidak menunjukkan kasih kepada kita.
Keberanian menyatakan kebenaran
Perlu keberanian untuk menyatakan kebenaran, ketika Rasul Paulus mendengar bahwa Jemaat-jemaat Galatia mulai dibingungkan dengan ajaran sesat, segera Paulus mengirimkan surat yang berisi teguran dan peringatan agar mereka kembali kepada kebenaran Injil yang memerdekakan. Walaupun itu membuat dia dimusuhi, dianggap musuh oleh Jemaat yang begitu dia kasihi karena Paulus berani menyatakan kebenaran bukanlah keadaan yang menyenangkan.
Sebagai hamba Tuhan seringkali kita harus memilih diam atau menyatakan kebenaran, perasaan dimusuhi atau dianggap aneh karena menyatakan kebenaran bukanlah hal yang mudah. Tapi itu bukan berarti kita putus asa dan menjadi tidak peduli. Jemaat tetap perlu tahu apa yang benar atau salah sepahit apapun itu. Seperti orangtua yang selalu ingin yang baik untuk anak-anaknya walaupun terkadang si anak tidak mau mendengar atau menerimanya, perintis atau gembala Jemaat perlu terus menunjukkan kebenaran dalam Kristus dalam pengajarannya.
Amien.

DAFTAR PUSTAKA
Dr.C.Groenen OFM, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru (Yogyakarta:Kanisius, cet. ke-7, 1992).
Drs. M.E. Duyverman, Pembimbing Ke Dalam Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. ke-11, 1996).
Ds.J.J.W.Gunning, Tafsiran Alkitab Surat Galatia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. ke-7, 2001).
John Balchin, Peter Cotterell, Mark Evans, Gilbert Kirby, Peggy Knight, Derek Tidball, Intisari Alkitab (Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab, cet. ke-1, 1994).
John Drane, Memahami Perjanjian Baru – Pengantar Historis Teologis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. ke-1, 1996).
William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Surat-surat Galatia dan Efesus (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. ke-9, 2008).
Warren W. Wiersbe, Merdeka Di Dalam Kristus – Tafsiran Surat Galatia (Bandung: Kalam Hidup, 1975).

About STTJKI

SUCI, IMAN, AKADEMIS, PRAKTIS

Posted on October 11, 2011, in TAFSIR PB and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: