Teologi Paradoksal

TEOLOGI PARADOKSAL

oleh: Hery Susanto, M.Th.

Dalam bagian ini akan dibahas sebuah gagasan teologi baru yang sesuai dalam perkembangan Dekade II abad XXI. Teologi ini dinamakan teologi paradoksal yaitu sebuah teologi yang mencoba memahami gejala sekularisme pada satu sisi dan gejala mistisisme pada sisi lain, dengan menawarkan sebuah pemahaman jalan tengah sehingga perbedaan dua kutub yang paradoks dapat ditemukan dengan dasar Alkitabiah.

II.1. Latar Belakang

Dalam percakapan Yesus dengan Nikodemus, Yesus mengatakan bahwa seseorang harus dilahirkan kembali agar bisa masuk Kerajaan Allah (Yoh. 3:3), apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah Roh (Yoh.3:5).  Kalimat pernyataanYesus tersebut melukiskan keberadaan dua aspek dalam hidup manusia yang terpisah antara yang jasmani dan rohani, sekuler dan spiritual. Istilah ‘daging’ yang digunakan di sini mengacu kepada keinginan hawa nafsu manusia atau dalam bahasa modern adalah sekulerisme, sedangkan dilahirkan dalam Roh mengarah kepada pembaharuan budi yang tertju kepada Allah atau aspek spiritualitas manusia.

Kedua sisi itu kadang kala menjadi problem dalam perkembangan peradaban manusia yang semakin maju karena tuntutan hidup yang semakin kompleks dan menuntut manusia berpikir semakin keras, dapat membuat manusia lupa akan aspek yang satunya yaitu spiritualitas. Manusia terlalu membanggakan kemampuan akal budinya dan usaha kerasnya, bahkan terdapat kecenderungan untuk menggunakan agama sebagai kedok untuk mendapatkan manfaat secara jasmani atau kedagingan. Dalam hal inilah diperlukan teologi  yang bisa menengahi dua sisi ini sehingga manusia dapat berjalan secara imbang.

II.1.1. Teologi dan Sekularisasi

Sekularisasi sudah terjadi dalam jaman Raja Salomo, di mana bangsa Israel dipaksa untuk membangun proyek besar dan beban pajak yang sangat berat. Mereka bekerja keras untuk mewujudkan visi dan misi Salomo, hingga pada masa anaknya, hal itulah yang membuat mereka berkeluh kesah dan minta keringanan, namun justru beban hidup semakin diperberat ( I Raja 12:4). Ini adalah sebuah contoh kondisi kehidupan mereka yang sangat berbeda dengan masa Musa hingga Daud. Kehidupan agamis dipertahankan dan mereka berusaha untuk mematuhi hukum Taurat di tengah kehidupan sehari-hari mereka (Ulangan 6:1-9).

Dalam perkembangannya, umat Israel semakin jauh dari kehidupan yang agamis karena tekanan politik dari Asyur dan Babil. Mereka tidak mendapat kesempatan atau kebebasan untuk beribadah kepada Allah YAHWEH (2 Tawarikh 36:17-21).  Umat Israel dipaksa untuk bekerja paksa dan mengikuti pola agama yang baru.

Di tengah situasi yang tidak mendukung peribadahan itulah para nabi menyampaikan pesan Allah yang menyuarakan pertobatan dan pengharapan asalkan mereka mau berbalik kepada Allah. Hasrat lama untuk kembali kepada Tuhan mulai terasa di tengah masa-masa sulit mereka. Mereka sangat merindukan tempat peribadahan mereka di Yerusalem dan tata ibadah yang pernah mereka lakukan.

Efek tersebut berlanjut hingga masa Perjanjian Baru, di mana orang-orang Farisi, Saduki, dan kelompok Yahudi lainnya masih tetap memegang tradisi keyahudian berkaitan dengan pola agamis yang sangat ketat. Sementara itu Yesus mengajarkan berbagai macam pengajaran yang dapat mengakomodir kebutuhan mereka akan kehidupan spiritual di tengah kehidupan sehari-hari mereka atau sekuler.  Yesus mengajarkan hukum kasih yang praktis dan bisa dilakukan dengan sangat fleksibel, jika dibandingkan dengan kekakuan aturan dalam taurat. Yesuspun menjadi teladan dalam menempatkan kehidupan rohani dan kebutuhan hidup sekuler dalam sebuah tatanan yang seimbang, bukan berkontradiksi.

Jika dilihat apa yang terjadi dengan trend abad XXI, di mana kecenderungan manusia untuk semakin sekuler dan plural justru membawa kepada penemuan spiritual yang berbeda dengan apa yang Tuhan maksudkan.  Salah satu contohnya adalah mengartikan pola tabur tuai sebagai sebuah doktrin yang mengimani bahwa semakin banyak memberi  maka akan semakin diberkati. Di satu sisi hal itu benar adanya, tapi jika dikaitkan dengan berkat jasmani yang menjadi motivasi utamanya, maka hal itu menjadi kurang tepat.  Yesus justru mengatakan, “Apa yang kau ikat di bumi akan diikat di surga dan apa yang kau lepaskan di dunia akan dilepaskan Tuhan di surga”.  Jadi pemikiran teologis dan sekularisme harus diletakkan dalam posisi yang beririsan. Maksudnya tidak tepat jika segala hal teologis menjadi sangat sekuler, dan sebaliknya hal yang sekuler dicari pembenaran teologisnya untuk mendukung apa yang dilakukan.  Hal ini menjadi pergumulan orang Kristen masa kini yang sulit untuk melihat batasan-batasan sekuler ataupun teologis.  Teologi cenderung digunakan untuk memberikan dukungan terhadap sekularisme.

II.1.2. Teologi dan Mistisism

Di sisi lain ditemukan gejala mistisism semakin tumbuh subur di dekade II abad XXI. Manusia tidak mampu menemukan jawaban yang memuaskan mengenai hal yang relatif dan mutlak.  Segala sesuatu menjadi relatif dan tidak pasti. Manusia mencoba mencari jalan keluar sendiri-sendiri. Akibatnya muncullah ajaran-ajaran neo-animism dan neo- dinamisme yang dulunya dianggap tidak relevan, sekarang malah banyak diminati karena manusia dapat menemukan Allahnya sendiri sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Pemahaman imanensi Allah lebih ditonjolkan untuk memberikan rasa aman dan damai sejahtera.  Perasaan itu dapat digali melalui upaya meditasi, kontemplasi, yoga, sugesti positif dan masih banyak lagi bentuk mistisim yang berkembang.  Rasionalisme manusia mencoba menangkap fenomena spiritual secara ilmiah dan metafisis.  Pemahaman mengenai teologi sangat menonjolkan unsur metafisis untuk tujuan kedamaian dan kesejahteraan diri sendiri. Sebagaimana dinyatakan Daniel Lukas Lukito bahwa bahaya dari bangun teologi semacam ini adalah menghilangkan setiap aspek transendensi Allah dan mereduksi Allah yang transenden ke dalam hal-hal praktis, bahkan cenderung disamakan dengan dunia. Sifat kemahakuasaan dan supernatural Allah tidak diterima di dalam lingkup imanensi.[1]

Sesungguhnya gerakan mistisism tidak pernah hilang sepanjang sejarah manusia. Dari ketidaktahuan manusia dan rasa keingintahuan tentang apa yang benar membawa manusia memasuki dimensi baru yaitu supranatural. Secara teologis hal filosofis seperti ungkapan, “Aku di dalam kamu dan kamu di dalam Aku” diartikan secara metafisis, sehingga  menemukan bahwa manusiapun bisa menjadi ‘seperti Allah kecil’ melalui penggalian mendalam ke dalam diri sendiri. Yesus menjadi bagian dari sebuah ide tentang hal yang ilahi dan tidak perlu di pertanyakan secara historis maupun keberadaannya, karena dianggap bahwa sekarang manusiapun dapat menghadirkan Tuhan Yesus kapanpun mereka menghendaki. Kisah penyaliban Yesus tidak perlu diperdebatkan karena secara esensi dapat dikatakan bahwa penyaliban Yesus hanya merupakan contoh kasih yang besar dan pada masa sekarang dapat ditemukan dalam kegiatan mistisisme.

Secara umum, di dalam setiap agama atau kepercayaan mengandung unsur mistis yang mampu membuat manusia percaya apa yang diyakininya (imanensi).  Menurut historis, agama muncul dari budaya timur yang sarat dengan unsur mistis sehingga ketika agama itu dibawa ke budaya barat yang cenderung rasional, mengalami perubahan yang bersifat logis kritis dan ilmiah.  Namun pada masa sekarang budaya barat justru ingin mengembalikan agama Kristen ke dalam budaya timur, dan mereka mencoba mendekatinya dengan cara timur, muncullah teologi-teologi baru seperti Creation Spirituality, Christian Science, Taize, dan masih banyak lagi. Mistisisme dalam budaya timur berkembang subur karena  filosofi di dalamnya banyak yang sesuai dengan teologi di dalam Alkitab (paling tidak ada hal-hal yang bisa dijelaskan lebih jelas keika didekati dengan filosofi mistisism).

II.2. Definisi Teologi Paradoksal

Istilah paradoks berasal dari bahasa Inggris ‘paradox’ yang berarti suatu situasi yang melibatkan dua ide atau kualitas yang sangat berbeda. Pengertian yang kedua adalah sebuah pernyataan yang nampaknya tidak mungkin dapat diwujudkan karena terdiri atas dua ide yang yang saling berlawanan tetapi sama-sama benar.[2]

Dari definisi di atas dapat ditarik sebuah pengertian teologi paradoksal, yang berarti sebuah pengetahuan mengenai Allah dan karya-Nya terhadap manusia secara holistik baik dari aspek spiritual maupun sekuler, jasmani maupun rohani yang saling bertolak belakang satu sama lain. Semakin sekuler maka kerohanian menjadi makin lemah sedangkan ketika semakin rohani, kadang kala mereka tidak lagi mau bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya/ malas secara sekuler. Tipe orang semacam ini lebih mengandalkan kepercayaannya sehingga ia merasa bahwa Allah yang Mahabaik itu akan tetap mencurahkan berkat-berkat tanpa perlu berusaha keras.

Contoh paradoks dalam ajaran Yesus terdapat di dalam Matius 10: 39; Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya, di dalam Lukas 22: 26; …….yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan, dan masih banyak lagi perkataan Yesus yang bersifat paradoks.

II.2.1. Pengertian paradoks

Mengutip pemikiran Otto Eissfeldt, ia mengatakan bahwa,” The tension between absolute and relative, between transcendence and immanence, is the current problem theology.” (tegangan antara absolut dan relatif, antara transenden dan imanensi, menjadi masalah teologi yang sering dihadapi).[3]

Tegangan itu terjadi karena ada pemisahan konsep antara absolut dan relatif yang seakan-akan berada pada dua kutub yang berbeda dan tidak dapat dipersatukan. Pemisahan antara konsep Allah yang transenden dan keberadaan-Nya yang imanen juga menjadi masalah yang menentukan jenis teologi yang akan dikembangkan.  Jika landasan berpikirnya adalah transendensi maka menghasilkan teologi yang ortodoks atau fundamental, sedangkan jika landasannya imanensi maka hasilnya adalah teologi karismatik dan menjurus ke arah mistisism.

Ajaran Tuhan Yesus dalam Alkitab juga menggambarkan paradoks antara kehidupan sekuler di dunia dan kehidupan kekal yang dijanjikan Tuhan. Sebagai contoh adalah dalam percakapan antara Yesus dengan seorang Farisi yang merasa sudah melakukan semua hukum Taurat namun Tuhan Yesus berkata bahwa ia harus menjual semua miliknya dan membagi-bagikan kepada orang yang membutuhkan dan mengikuti Dia (Matius 9:16-26).  Nampaknya ada kesan bahwa untuk menjadi murid Yesus diperlukan sebuah keberanian untuk tidak bergantung kepada apa yang ia miliki, tapi justru rela kehilangan semua yang dimilikinya.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah apakah dengan perbedaan konsep yang saling bertolak belakang tersebut benar-benar tidak dapat dipersatukan?  Jawabnya adalah dapat.  Paradoks yang terjadi di dalam teologi tersebut tidak boleh dilihat sebagai suatu hal yang bertentangan tetapi justru dua sisi yang harus berjalan seimbang.  Yesus tidak pernah mengajarkan hal yang tidak mungkin dijangkau oleh manusia. Yesus  mengajarkan agar setiap manusia tidak meninggalkan hidup sekulernya, tetapi mengutamakan kehidupan ‘kerajaan surga’ maka segalanya akan ditambahkan kepadanya.

II.2.2. Reposisi paradoks dalam berteologi

Sejak semula manusia dipenuhi oleh rasa keingintahuan yang besar sehingga manusia berusaha untuk mendapatkan kebenaran yang sesungguh-sungguhnya. Hal itulah yang kemudian membuat manusia berfilsafat. Filsafat menjadi dasar dari segala macam ilmu pengetahuan, termasuk teologi.  Teologi yang dibangun atas dasar berfilsafat tidak dapat melihat secara utuh dua sisi paradoks karena dasar pemikiran pragmatis yang memisahkan hal yang ideal dan empiris, memisahkan hal sekuler dengan hal yang supranatural . Sebagai contoh: Thomas J.J. Altizer, William Hamilton, Gabriel Vahanian dan Richard Rubenstein yang mendukung teologi sekulerisasi sampai memandang bahwa konsep Allah mati dalam dunia modern merupakan suatu kebenaran ontologis dan metafisis yang sesuai dalam dunia modern.[4]  Di sisi lain adalah lahirnya gerakan New Ages Movement yang mengajarkan manusia menemukan di dalam dirinya sendiri terdapat Allah dan alam semesta (pantheism)[5], dan Creation Spirituality yang dikembangkan oleh Matthew Fox telah mendapatkan banyak pengikut dengan memanfaatkan multimedia lewat internet dan aksesnya dapat mendunia. Ajarannya mengubah paradigma pengikutnya untuk menemukan kedamaian dalam dirinya sendiri (panentheism)[6].

Analogi yang dapat dibuat untuk menggambarkan hal ini adalah seseorang yang melihat sesuatu dengan mata satu.  Tuhan mengaruniakan dua mata agar kita dapat melihat secara utuh dan terfokus. Jika kita menutup salah satu mata kita, pandangan yang dihasilkan tidak akan sempurna.  Oleh sebab itu kedua mata tersebut seharusnya tetap dapat berjalan seiring agar dapat memberikan gambaran utuh yang lebih baik.

Konsep Paradoks yang seolah-olah berada pada dua garis yang berbeda harus dapat disatukan dalam sebuah teologi yang balance. Dr. Stephen Curkpatrick mengatakan bahwa reposisi paradoks dalam berteologi adalah seperti “lingkaran terpelintir” di mana sisi luar dapat bertemu dengan sisi dalam dan sisi dalam bertemu dengan sisi luar dalam sebuah lingkaran. Inside-outside dan outside-inside dalam satu hubungan yang tidak terputus.[7]

Kedua analogi tersebut dapat menjadi sebuah inspirasi bagi para teolog untuk mempertimbangkan keharmonisan dan kedisharmonisan pemikiran teologis dari berbagai perspektif agar memberikan sebuah pemahaman yang komprehensif dan lengkap. Sumber teologi yang berasal dari sumber utama Alkitab, harus dilengkapi dengan sumber lain yaitu bentukan teologi yang sudah jadi dengan dasar budaya lokal, tradisi, kepercayaan. Untuk itu perlu dipertimbangkan  bahwa tugas utama teologi adalah mengungkapkan jati diri suatu komunitas orang percaya dan menolongnya menghadapi perubahan sosial yang dialami oleh komunitas itu.[8]

Jadi dalam Teologi Paradoksal ini sekularisme di dalam mistisisme dan mistisime di dalam sekularisme menjadi satu rangkaian yang tak terputus.  Dalam situasi tertentu ia dapat menunjukkan sisi sekularisnya lebih menonjol tanpa meninggalkan sisi religius atau kerohaniannya. Pada kesempatan yang lain, kerohaniannya lebih menonjol tanpa meninggalkan aspek sekuler di dalam hidupnya. Dengan demikian ia dapat menerapkan teologi dalam kehidupan di dunia dengan seimbang.


[1] Daniel Lukas Lukito, “Kecenderungan Perkembangan Pemikiran Abad 21- Sebuah Kajian Retrospektif dan Prospektif” dalam Jurnal Teologi dan Pelayanan VERITAS, I No. 1, April 2000, hal. 3-6.

[2] Douglas Biber. Longman Dictionary of Contemporary English. England: Pearson Education Limited, 2003. Hal. 1193.

[3] Ben.C. Ollenburger, Elmer A. Martens, Gerhard  F. Hasel. The Flowering of Old Testament Theology. Indiana: Eisenbauns, 1992. Hal. 20.

[4] David.L. Smith, A Handbook of Contemporary Theology.  Grand Rapids: Bakers Book, 1992. Hal. 169-172

[5] Ibid. Hal. 283-284.

[6] Ibid. Hal. 292.

[7] Stephen Curkpatrick. Articles from journal of Contemporary Theology.  www.cctc.au. Diakses pada tanggal 28 Januari 2011.

[8] Robert. J. Schreiter. Rancang Bangun Teologi Lokal. Jakarta: BPK. Gunung Mulia,1993. Hal. 72.

About STTJKI

SUCI, IMAN, AKADEMIS, PRAKTIS

Posted on October 11, 2011, in KONTEMPORER and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: