Skeptisisme modern

DAPATKAH KITA MENGETAHUI ?

Allah memberikan akal budi kepada Manusia melebihi bintang di bumi (Ayub 35:11). Dengan akal budi yang diberikan Allah kepada manusia inilah, maka manusia mampu berfikir untuk menelaah atau mengetahui sesuatu di dalam dunia ini, bahkan manusia mampu berfikir tentang keberadaan Allah sebagai satu pribadi pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta sebagai ciptaan-Nya. Sejak zama kuno di Timur telah terdapat banyak orang mencari kebijaksanaan atau kebenaran. “Kemampuan untuk mencari atau mengusahakan kebenaran sama artinya dengan berfilsafat; Usaha manusia dengan akalnya untuk memperoleh suatu pandangan dunia dan hidup yang memuaskan hati”.( Dr. Harun Hadiwiyono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, Kanisius-Yogyakarta, 1980, Hal. 8.). Jadi manusia memiliki akal yang diberikan Allah untuk mengetahui apa yang ada disekitarnya.
Mengetahui sesuatu bukanlah hal dongeng atau cerita yang didengar oleh seseorang, melainkan dengan akal budinya. Bangsa Yunani kuno kaya akan mitos (dongeng), dimana mitos dianggap sebagai awal dari upaya orang untuk mengetahui atau mengerti. “Mitos-mitos tersebut kemudian disusun secara sistamatis yang untuk sementara kelihatan rasional sehingga muncul mitos selektif yang rasional. Karena pengaruh ilmu-ilmu pengetahuan yang berasal dari Babylonia (Mesir), ilmu-ilmu tersebut dikembangkan sehingga mereka mempelajarinya tidak didasarkan pada asepek praktis saja, tetapi juga aspek teoritis kreatif. Dengan adanya faktor tersebut, kedudukan mitos digeser oleh “logos” (akal)” (Drs. Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, Hal.30). Heraclitos (535 – 475 SM) seorang filsuf mengucapkan : “Panta rhei kai uden menci” artinya sesuatu mengalir seperti sungai, air mengalir dengan air yang bebeda. Tentang pengetahuanpun demikian, yaitu bahwa pengetahuan yang sejati adalah pengtehauan yang berubah sehingga apa yang disebut sebagai realitas merupakan sesuatu yang khusus, jumlahnya banyak dan sifatnya dinamis. (Drs. Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, Hal.36).
Gerard Beekman dalam bukunya “Filsafat para Filsuf berfilsafat”; Erlangga, Jakarta, 1984, hal 106, menuliskan Teori pengetahuan atau ajaran pengetahuan (kenleer), yang juga disebut epistemologi – dari perkataan Yunani epistemis = pengetahuan, adalah bagian filsafat yang mengadakan penyelidikan mengenaio kebenaran atau nilai dari pengetahuan manusia. Pengetahuan manusia ini dapat dipelajari dari berbagai pandangan, misalnya dari sudut ilmu jiwa, ilmu faal, ilmu sosial, sejarah kebudayaan dan sebagainya.
Bagian-bagian manusia yang mampu untuk mengetahui adalah akal, indera dan inuisi. Nicolas Cusasus (1401-1464) sebagai tokoh pemikir Skolastik memiliki pendapat; terdapat tiga cara untuk mengetahui/mengenal, yaitu: lewat indera, akal dan intuisi. Dengan akal kita akan mendapat pengetahuan tentang benda-benda yang berjasad, yang sifatnya tidak sempurna. Dengan akal kita akan mendapat bentuk-bentuk pengertian yang abstrak berdasarkan sajian atau tangkapan indera. Dengan intuisi kita akan mendapat pengetahuan yang lebih tinggi, yaitu tentang Tuhan. (Drs. Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, Hal.78).
Pengetahuan berkembang, dari pengetahuan yang bersumber kepada mitos-mitos kepada satu bentuk relalitas dan dinamis. Dalam perkembangannya “usaha manusia untuk mengetahui” memakai indera, akal dan intuisi yang ada dalam diri manusia.
Pada jaman Renaissance, pengetahuan terus berkembang. Dr. Harus Hadiwiyono dalam bukunya, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, Kanisius-Yogyakarta, 1980, Hal. 18. menyatakan: Aliran Rasionalis berpendapat, bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal). Hanya pengetahauan yang diperoleh melalui akal-lah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh sifat umum dan yang perlu mutlak, yaitu syarat yang dituntut oleh semua pengetahuan ilmiah. Pengalaman hanya dapat dipakai untk meneguhkan pengetahuan yang yang telah didapat oleh akal. Akal tidak memerlukan pengelaman. Akal dapat menurunkan kebenaran dari pada dirinya sendiri, yaitu atas dasar sasa-asas pertama yang pasti Metode yang diterapkan adalah deduktif. Teladan yang dikemukakan adalah ilmu pasti.
Aliran Empirisme berpendapat, bahwa empiri atau pengelamanlah yang menjadi sumber pengetahuan, baik pengalaman yang btiniah maupun yang lahiriah. Akal bukan menjadi sumber pengetahuan, akan tetapi akal mendapat tugas untuk memperoleh bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman. Metode yang diterapkan ialah induksi.
Colin Brown dalam bukunya “Filsafat dan Iman Kristen” (Lembaga Reformed Injili Indoneisa; 1994, hal 65-67) menyatakan: Tokoh Rasionalis besar, Rene Descartes dari Perancis(1596-1650). Bagaimana kita yakin bahwa dunia ini ada? jawabannya mempunyai tiga langkah utama. Yang pertama sekali, dia tiba pada kesadaran bahwa apapun dapat dia ragukan, fakta bahwa dia sedang ragu-ragu. Hal ini memimpin dia kepada aksiomanya yang terkenal: “Cogito ergo sum” (Aku berfikir, maka aku ada). Maka satu-satunya fakta bahwa dia sedang ragu-ragu dan sedang berfikir itu berarti dia harus ada. Langkah kedua adalah memperhatikan bahwa Allah ada. Langkah ketiga menegaskan bahwa Allah itu sempurna. Drs. Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, Hal.111 menyatakan: Rene Descartes berpendapat, bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah akal. hanya pengetahuan yang diperoleh lewat akal-lah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh semua ilmu pengetahuan ilmiah. Dengan akal dapat diperoleh kebenaran dengan metode deduktif, seperti yang dicontohkan dalam ilmu pasti.
Dr. Amsal Bakhtiar, M.A. dalam bukunya Filsafat Ilmu, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, Hal 98, menuliskan Empirisme berasal dari Yunani “empeirikos” yang berarti pengalaman, pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman inderawi. Dengan inderanya manusia dapat mengatasi taraf hubungan yang semata-mata fisik dan masuk ke adalam medan intensional, walaupun masih sangat sederhana. Indera menghubungkan manusia dengan hal-hal konkret-material. John Locke (1632-1704) bapak empiris Britania mengmukakan teolri tabula rasa (sejenis buku catatan kosong). Maksudnya adalah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengelamannya mengisi jiwanya yang kosong, lantas ia memiliki ilmu pengetahuan. Mula-mula tangkapan indera yang masuk itu sedrhana, lama-kelamaan menjadi kompleks, lalau tersusunlah pengetahuan berarti. Jadi, bagaimanapun kompleks pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati oleh indera bukanlah pengetahuan yang benar. jadi pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar.
Aliran Rasionalisme dan Empirisme membuka pemahaman yang lain. bahwa untuk dapat mengetahui sesuatu perlu adanya akal dan semua harus dibuktikan dengan ilmu pengetahuan yang ilmiah. Tetapi pengalaman inderawi manusia juga berkembang secara progresif sehingga manusia seturut berjalannya waktu dapat mengetahui sesuatu di dalam pengalaman hidupnya.Akal membawa kita untuk mengetahui secara pasti dan pengalaman membuka pengetahuan kita untjuk mengetahui secara progresif.
Menurut Henry Bergson, intuisi adalah hasil evolusi pemahaman yang tertinggi. Kemampuan ini mirip dengan insting, tetapi berbeda dengan keasadaran dan kebebasannya. Pengembangan kemampuan ini (Intuisi) memerlukan suatu usaha. Intuisi mengatasi sifat lahiriah pengetahuan simbolis, yang pada dasarnya bersifat analis, menyeluruh, mutlak dan tanpa dibantu oleh penggambaran simbolis. Karena itu intuisi adalah sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Kegiatan intuisi dan analisa bisa bekerja saling membantu dalam menemukan kebenaran. Bagi Nietzchen intuisi merupakan “intelegensi yang paling tinggi” dan bagi Maslow intuisi merupakan “pengalaman puncak”. Jadi untuk mengetahui sesuatu, masuia memerlukan intuisi sehingga dapat mengetahui.
Wahyu dari Allah adalah satu anugerah yang diberikan kepada manusia untuk mengetahui. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A. dalam bukunya Filsafat Ilmu, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, Hal 109-110, menuliskan Wahyu adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Allah kepada manusia lewat perantara Nabi. Para Nabi memperoleh pengetahuan dari Tuhan tanpa upaya, tanpa susah payah, tanpa memerlukan waktu untuk memperolehnya. Pengetahuan mereka terjadi atas kehendak Tuhan semesta. Tuhan mensucikan jiwa mereka dan diterangkan-Nya pula jiwa mereka untuk memperoleh kebenaran dengan jalan Wahyu.
Colin Brown dalam bukunya “Filsafat dan Iman Kristen” (Lembaga Reformed Injili Indoneisa; 1994, hal 162) menuliskan Istilah Idealisme adalah sebuah istilah yang luwes. Dalam arti yang paling luas, istilah ini menunjukkan pandangan bahwa pikiran dan nilai-nilai rohani (spiriual) lebih penting dibandingkan dengan hal-hal yang bersifat materi. Barkley lebih suka menyebutnya dengan immaterielisme. Kant beranggapan bahwa tidak mungkin mencapai pengetahuan mengenai dunia ini hanya melalui pemikiran rasional saja. Sebaliknya, dia percaya akan diri yang bersifat transendental dan keberadaan Allah, kemerdekaan, serta kekekalan yang diterima sebagai dalil. Mengetahui sesuatu melalui idealisme merupakan satu perkembangan iman kepada Allah sang pencipta yang ditegaskan dalam bentuk pikiran spiritual.
Dalam Makalah saya ini, dapat disimpulkan . Dapatkah saya mengetahui? Dapat, karena Allah memberi kita akal budi untuk mengetahui keadaan sekitar kita (ciptaan-Nya).
Dengan memakai akal, indera, intuisi, idealis dalam diri kita dan wahyu dari Allah, maka manusia mampu mengetahui.
Kita tidak dapat mengetahui keberadaan Allah jika hanya dengan mengandalkan kekuatan akal kita, hanya dengan melalui Firman dan Roh Kudus, serta pewahyuan yang dianugerahkan kepada kita, maka kita akan sedikit mengetahui keberadaan Allah yang Maha besar.

Buku Pendukung:
1. Dr. Harun Hadiwiyono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, Kanisius-Yogyakarta, 1980.
2. Dr. Harun Hadiwiyono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Kanisius-Yogyakarta, 1980.
3. Drs. Asmoro Achmadi, Fulsafat Umum, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.
4. Colin Brown “Filsafat dan Iman Kristen”; Lembaga Reformed Injili Indoneisa; 1994.
5. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A.; Filsafat Ilmu, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005.
6. Gerard Beekman, “Filsafat para Filsuf berfilsafat”; Erlangga, Jakarta, 1984,

About STTJKI

SUCI, IMAN, AKADEMIS, PRAKTIS

Posted on October 14, 2011, in FILSAFAT and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. mantab , trima kasih bagi pengelola blog ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: