Teologi Feminis

Oleh : Ira T. Utary, S.Th.

Teologi Feminis lahir sebagai reaksi protes terhadap dominasi dan penindasan terhadap kaum wanita yang berlangsung di dalam dan di luar gereja selama berabad-abad. Teolog-teolog feminis sendiri yakin bahwa pendorong gerakan mereka berakar dari pengajaran Perjanjian Baru tentang bagaimana seharusnya orang Kristen berelasi satu dengan yang lain. Model relasi orang Kristen, khususnya pria dan wanita tidak bersifat hierarki melainkan kesederajatan yang sempurna dan tidak boleh ada lagi peran dalam masyarakat, gereja ataupun di rumah yang berdasar pada perbedaan gender.
LATAR BELAKANG TEOLOGI FEMINIS
Akar sejarah teologi feminis kembali ke masa reformasi Protestan abad ke-16, Martin Luther dan John Calvin (meskipun tidak pro feminis) dengan dasar Alkitab mengajarkan bahwa baik pria dan perempuan diciptakan dalam gambar Allah dan karenanya di hadapan Allah sama. Kaum perempuan Methodist dan Quaker pada abad ke-18 diizinkan untuk mengajar dan berkhotbah dan memegang jabatan di gereja-gereja mereka.
Dalam periode pencerahan diperkuat penekanan pada kesetaraan tempat dalam masyarakat. Robert Owen memiliki visi membangun komunitas utopis di mana semua penduduk akan hidup dalam perdamaian dan kasih, semua pada pijakan yang sama. Perempuan setara dengan laki-laki dan anak-anak menikmati kesetaraan dengan orang dewasa. Pada 1920 perempuan di Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Belanda, austria, dan serikat Soviet telah memperoleh suara.
Vatikan II memainkan peranan besar dalam dorongan feminisme. Dengan aksesi Yohanes XXIII, Gereja Katolik Roma dipimpin oleh seorang pria yang bersimpati kepada aspirasi perempuan untuk kesetaraan. Pengaruh Paus itu terlihat di dokumen Vatikan II tentang laki-laki dan perempuan .Ini juga menyatakan bahwa diskriminasi semua, termasuk diskriminasi perbedaan gender, harus diatasi dan disingkirkan, karena bertentangan dengan maksud Tuhan.
Feminisme modern pada tahun 1960, banyak dari mereka berpendidikan dan dipengaruhi oleh cita-cita Marxis dan sosialisme, tidak mau mentolerir apa yang mereka lihat sebagai penindasan dan menjadi pendukung perubahan radikal.
Politik feminisme sebagai gerakan, sebagai aturan, isu-isu yang berkaitan dengan pekerjaan, pendidikan, dan politik membawa perempuan bersatu. Namun ada pepecahan ketika sampai ke masalah gender dan moral, menjadi :

Feminisme Liberal
Dipimpin Betty Friedan, tujuannya menemukan kesetaraan hak dan kesempatan kerja, awalanya dari orang-orang berpendidikan, ibu-ibu rumah tangga, kelas menengah keatas. Mereka tidak anti laki-laki bahkan memasukkan dalam keanggotaan. Ketika beberapa begitu ekstrim mereka terkejut. Prinsip mereka semua orang diciptakan sejajar dan seharusnya memiliki kesempatan yang setara, dan mereka menyadari itu terjadi pada kaum wanita, sehingga mereka menuntut itu segera dilakukan. Kelompok ini mengingikan perubahan melalui cara-cara yang moderat

Feminisme Sosialis Marxis
Mengikuti pandangan Marxis, yang diperjuangkan bukan anti perbedaan gender, tapi anti kelas dan anti kapitalis. Dalam pekerjaan mendapat gaji yang sama, kesempatan kerja. Idealnya sama rata, sama rasa. Pernikahan dianggap penghalang.
Feminisme Radikal
Menganggap semua laki-laki musuh (anti pria), kebencian mereka pada pria membuat manifesto SCUM. Mereka menyamaratakan bahwa pria hanya menganggap mereka obyek seksual belaka. Sampai ke lesbi sebagai balas dendam kepada pria.
Tokoh-tokoh Feminisme
1. Letty M. Russell : Guru besar teologia praktika di Yale, 1985 ditahbiskan menjadi pendeta gereja Presbitarian USA, aktif di komisi Faith and Order Dewan gereja Nasional dan Dewan gereja Dunia.
2. Rosemary Radford Ruether : Gelar Phd dari Claremont Graduate School, California. Bergabung dengan Russell beralih dari model penafsiran sebelumnya dominan dengan dualisme seksual-eklesia-kultural pada sebuah hermeneutic kritis tentang budaya.
3. Mary Daly : Kecewa dengan konsili vatikan II yang tidak diperhatiakan, bertekad memperbaharui status perempuan dalam gereja dengan visi baru.
4. Elizabeth Schussler Florennza : Frofesor Universitas Harvard, penulis buku dan artikel yang membahas teologi feminis.
5. Kwok Pul Lan : Tokoh feminis Asia.
6. Marianne H. Katoppo : Mendirikan Forum Demokrasi (1991) bersama Gus Dur. Memilih teologi perempuan sebagai teologi pembebasan.
TEOLOGI FEMINIS
Pandangan yang merendahkan wanita bukan hanya ada di luar kekristenan. Di dalam gereja sendiri, tragisnya, sering kali wanita dipandang sebagai harta milik, objek, polusi yang membahayakan, dan yang paling keras adalah, wanita dinilai tidak mampu menjadi gambar Allah sehingga mereka dilarang untuk menjadi pemimpin, pengkhotbah dan pengajar dalam ibadah maupun pelayan di gereja.
A. Pandangan Terhadap Alkitab
Kalau kita berbicara mengenai teologi seseorang atau sekelompok orang maka salah satu pertanyaan yang penting dan perlu diajukan adalah bagaimana pandangan orang atau kelompok orang tersebut terhadap Alkitab? Apakah Alkitab diterima sebagai firman Allah yang berotoritas? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut setidaknya menunjukkan corak teologi yang dianut seseorang atau sekelompok orang tersebut.
Hermeneutik Feminis 1. Mengikuti Teologia pembebasan, dan mereka memakai argumen baik pria wanita harus menyadari bahwa esensi iman Kristen adalah penggilan kenabian untuk membebaskan mereka yang tertindas. 2. Menafsirkan ulang ayat-ayat yang disepelekan/didistorsi kelompok patriakal. 3. Kelompok yang menolak kanon, karena Alkitab adalah produk golongan patriakh.
Karena itu Teologia Feminis bukan hanya terlibat dalam satu reformasi pada satu waktu yang baik di masa lalu, satu periode asli yang tanpa cacat, karena periode seperti itu yang bisa ditemukan untuk wanita baik dalam tradisi Kristen Yahudi atau sebelumnya. Bahkan bagi mereka yang menganggap diri sebagai kelanjutan Teologi Feminis harus berdiri sebagai satu mazab baru atau perjanjian ketiga, yang … memulai satu permulaan baru dimana kepribadian seorang wanita tidak lagi dipinggirkan tetapi ada di pusat.
Feminis dan Allah
Karena konteks kultural Allah dibatasi sebagai pria, istilah Allah Bapa bukan “She” sehingga kaum feminis banyak menterjemahkan nama-nama dan karakter-karakter Allah yang diidentifikasikan dengan wanita.
Kristus dan keselamatan
Secara umum yang aliran utama masih menerima Kristus sebagai yang mewakili Allah. Menggarisbawahi hubungannya yang unik dengan Allah dan manusia,: sebagai Allah yang adalah kasih yang melayani yang lain, dasar hubungan yang sejati yang didalamnya kita adalah patner dengan Allah dalam membebaskan dunia ini, tapi juga patner dengan yang lain dalam mengalahkan ikatan ras, gender dan kelas.
Yesus dalam sejarah menarik bagi banyak wanita karena menolak kemapanan patriakhal di jamanNya. Dia dengan terbuka menerima orang-orang yang tertindas dan terbuang-para pemungut cukai, pelacur, orang samaria, sakit kusta dan wanita.
Roh Kudus
Banyak pembela hak-hak wanita menemukan bahwa mereka merasa paling nyaman dengan pribadi ketiga dari Tritunggal, yaitu Roh Kudus, mereka sering bicara tentang Roh Kudus dalam istilah feminisme, mereka mengasosiasikan Roh Kudus dengan prinsip-prinsip hikmat yang dalam kitab Amsal bergender feminim. Roh Kudus dikenal sebagai pribadi yang membimbing, menghibur dan memelihara seperti seorang ibu yang penuh perhatian dan kasih.
Antropologi Feminis
Alkitab mejelaskan baik pria maupun wanita diciptakan segambar dengan Allah (Kej. 1:26-27). Banyak kaum feminis mengikuti teologi liberal dalam pandangan mereka tentang dosa.
Wanita dan Gereja
Dari dulu sampai sekarang masih banyak gereja yang tidak jelas posisinya dalam batasan peran wanita dalam Gereja, sementara kaum feminis menuntut kesetaraan gender yang seluas-luasnya. Berepapa tokoh yang anti feminis beralasan secara historis gereja tidak pernah mentabiskan wanita. Tanggapan feminis di dalam Perjanjian Baru bicara tentang beberapa wanita yang memegang peran kepemimpinan wanita yang penting, seperti Febe seorang diakon dan administrator Roma 16:1-2, Roma 16:7 Yunias seorang rasul, Priskila seorang guru penting.
Kelompok Feminis Teologi Radikal
Mereka menolak iman Kristen dan menganggap sejak kelahirannya Gereja telah mnendiskriminasikan wanita, mereka mendukung pengganti Teologi Kristen satu bentuk baru yang berasal dari pengalaman wanita dan menggantikan Allah dengan “dewi”, kelompok lain menghubungkan dengan sihir dan panteisme.
Kelompok Feminis Injili
Mereka tidak membuang sejarah iman Kristen, mereka menerima Alkitab sebagai Firman Allah yang berotoritas. Secara doktrin mereka injili. Mereka mengikuti gerakan feminisme tetapi tidak keluar dari batasan Alkitab, mereka ingin menjadi pribadi yang penuh. “kami meminta hak kami untuk dapat menentukan pilihan sendiri untuk menentukan hidup kami sendiri, bukan berdasarkan motivasi yang mementingkan diri sendiri tetapi karena Allah memanggil kami dan memerintahkan untuk Mengembangkan karunia yang telah diberikan pada kami.” Bagi mereka Galatia 3:28 haruslah menjadi fakta yang praktis.

B. Metode Teologi Kaum Feminis
Dengan pandangan yang cukup negatif tentang Alkitab timbul pertanyaan: berita positif apa yang terdapat dalam Alkitab bagi para feminis? Alkitab bukan saja merupakan “the liberating word tetapi juga harus menjadi the liberated word”. Apa yang ia maksud dengan the liberated word? The liberated word berarti Alkitab dibebaskan dari cara pandang patriarkhal. Caranya adalah dengan membuang semua budaya patriarkhal yang telah membelenggu teks-teks Alkitab, untuk menemukan berita pembebasan kaum wanita.
Alkitab harus dilihat sebagai tradisi profetik-mesianis, yakni melihat Alkitab dari perspektif kritis, di mana tradisi biblikal harus terus-menerus dievaluasi ulang dalam konteks yang baru. Kaum feminis tidak hanya dipanggil untuk memberitakan berita penghakiman (profetik), namun ada juga unsur mesianisnya, artinya ada kabar “keselamatan” bagi kaum wanita, yakni pembebasan dari ketidakadilan, tradisi profetik-mesianik ini menjadi ukuran atau norma untuk menilai teks-teks Alkitab yang lain.
Alkitab diinspirasikan oleh Allah dalam pengertian bahwa di dalam dan melalui kata-kata yang digunakan oleh penulis Alkitab, Allah memberikan firman-Nya. Allah memakai manusia yang terbatas untuk menyatakan kehendak-Nya. Firman Allah sempurna tetapi manusia, sebagai penulis Alkitab, terbatas. Jadi, ada peluang bagi ketidaksesuaian antara firman Allah yang kekal dan kata-kata yang digunakan oleh para penulis Alkitab. Atau dengan kata lain, Alkitab bersifat falibel serta tunduk pada keterbatasan manusia dalam menuangkan maksud Allah dalam kata-kata.
Para feminis juga berpendapat bahwa Teologi harus merupakan gabungan antara pertanyaan budaya kontemporer dan jawabannya, di mana jawaban tersebut ditentukan oleh latar belakang budaya kontemporer (budaya pada waktu pertanyaan tersebut dilontarkan). Pada masa kini, situasi budaya ke mana tradisi Kristen itu harus dihubungkan adalah bertumbuhnya kesadaran wanita atau pengalaman kaum wanita di gereja. Oleh karena itu, pengalaman kaum wanita harus menjadi sumber dan norma bagi teologi Kristen kontemporer yang serius.
C. Dasar Alkitab
Bagian Alkitab yang paling sering dikutip oleh teolog-teolog feminis dan diklaim sebagai dasar teologi mereka, yang juga dikenal sebagai magna carta of humanity adalah Galatia 3:28 yang berbunyi: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3:28 dipandang sebagai ayat yang membebaskan wanita dari penindasan, dominasi dan subordinasi pria. Bagian-bagian lain yang juga berbicara tentang kesederajatan adalah: Kejadian 34:12; Keluaran 21:7, 22:17, Imamat 12:1-5; Ulangan 24:1-4; 1 Samuel 18:25 yang berbicara bahwa wanita dan pria memiliki status sosial yang sama; Hakim-hakim 4:4, 5:28-29; 2 Samuel 14:2, 20:16; 2 Raja-raja 11:3, 22:14; Nehemia 6:14, adalah ayat-ayat yang memperlihatkan bahwa wanita memiliki tempat dalam kehidupan religius dan sosial bangsa Israel, kecuali dalam hal keimaman; sedangkan dalam Kejadian 1:27 dikatakan bahwa wanita dan pria adalah makhluk yang sama-sama diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
EVALUASI
Teologi Feminis telah memberikan kontribusi yang sangat besar baik bagi Gereja dan juga terutama bagi kaum wanita. Namun, di samping sumbangsih yang diberikannya, tidak dapat dipungkiri bahwa teologi ini juga problematik. Teolog-teolog feminis beranggapan bahwa Teologi mereka bersumber atau berdasar pada Alkitab, firman Allah yang diinspirasikan. Namun ternyata yang dimaksud dengan diinspirasikan Allah menurut mereka tidak sama dengan yang diyakini oleh iman tradisional. Inspirasi menurut iman Kristen tradisional berarti pimpinan Roh Allah secara supernatural dalam pikiran para penulis Alkitab yang menjami otoritasnya. Akan tetapi, inspirasi menurut feminis tidaklah demikian. Yang dimaksud dengan inspirasi adalah bahwa Allah menyampaikan firman-Nya di dalam dan melalui kata-kata manusia yang bisa saja salah. Bagi para feminis, inspirasi tidak menjamin otoritas Alkitab. Alkitab bisa saja salah, berkontradiksi dan tidak konsisten karena adanya unsur keterbatasan manusia. Dengan demikian, bagi para feminis Alkitab tidak lebih dari “sumber” yang otoritasnya ditentukan oleh pembacanya, dalam hal ini adalah wanita. Alkitab bukan sumber yang normatif dan berotoritas karena yang menjadi norma adalah pengalaman dan perjuangan kaum wanita untuk mencapai kebebasan kemerdekaan dan kebebasan. Pandangan demikian jelas tidak benar. Jika kita mendapat Alkitab yang falibel dari manusia yang juga falibel, lalu bagaimana kita menentukan mana yang benar dan mana yang salah? Yang cukup menggelikan adalah, bagaimana mungkin teolog-teolog feminis menolak otoritas Alkitab, tetapi pada saat yang bersamaan mereka juga menggunakan Alkitab yang berotoritas sebagai dasar teologi mereka?
Teologi feminis berpijak bukan pada firman Allah melainkan pada pengalaman kaum wanita yang tertindas. Jadi dapat disimpulkan bahwa teologi ini bersifat eksistensialis karena lebih berpusat pada diri manusia daripada Allah. Teologi ini juga bersifat subjektif karena dipengaruhi oleh kepentingan dan keprihatinan terhadap wanita yang akhirnya mendistorsi berita itu sendiri, teologi feminis dapat dikategorikan sebagai teologi protes.
Dalam teologi “protestan,” baik melawan penindasan ekonomi, gender ataupun ras etnis minoritas, akan ada bahaya bila kita hanya tertarik pada isu-isu yang dikemukakan dan lepas dari pusat teologi Kristen, yaitu Allah yang menyatakan diri dalam Kristus. Bahaya yang ada misalnya, jika kita tidak lagi mengakui iman kita bahwa Yesus adalah Tuhan karena Ia adalah laki-laki dan laki-laki adalah musuh, atau memandang Tuhan Yesus tidak lebih dari seorang revolusioner.
Seperti mata uang, teologi feminis juga memiliki dua sisi. Di samping yang negatif ada juga hal-hal positif yang dapat kita petik dari teologi ini. Memang tidak dapat disangkal bahwa penindasan terhadap wanita sudah berlangsung begitu lama dan melukai banyak wanita. Usaha para teolog feminis untuk kembali meneliti Alkitab memberikan sumbangsih yang sangat besar. Lepas dari subjektivitas penafsiran mereka, kita melihat bahwa Allah menciptakan manusia (baik pria maupun wanita), memiliki derajat yang sama sebagai gambar dan rupa-Nya.
Sumbangsih teologi feminis juga terasa di dalam gereja. Selama ini tidak sedikit gereja yang melarang wanita untuk ambil bagian dalam pelayanan. Makin bertumbuhnya gerakan kaum wanita, mau tidak mau memaksa gereja dan para teolog untuk kembali melihat apa yang dikatakan Alkitab mengenai peran wanita dalam gereja. Sedikit demi sedikit gereja mulai membuka diri terhadap sumbangsih yang bisa diberikan oleh kaum wanita. Di lingkungan gereja di Indonesia, ada gereja tertentu yang dulunya “mengharamkan” pelayanan atau jabatan tertentu bagi wanita, tetapi saat ini ada cukup banyak gereja yang membuka diri terhadap wanita. Ada gereja-gereja tertentu yang mulai memberi kesempatan bagi jemaat wanitanya untuk ambil bagian dalam pelayanan atau gereja yang menahbiskan rohaniwatinya ke dalam jabatan pendeta, suatu hal yang dulunya jarang terjadi, karena tidak sedikit wanita Indonesia pada masa kini yang memiliki bakat, kemampuan dan tingkat kerohanian yang baik, bahkan juga tidak sedikit yang lebih baik dari pria. Mereka dapat melayani Tuhan sama baiknya dengan pria. Justru dengan natur pria dan wanita yang komplementer, saling melengkapi, memberikan indikasi bahwa gereja akan diperkaya dengan adanya partisipasi wanita dalam pelayanan.
Keseteraan berarti pengabolisian peran-peran yang berdasar pada gender yang ada di tengah masyarakat, gereja dan rumah tangga. Perbedaan yang cukup mencolok dari ketiga tipe tersebut adalah pandangan mereka terhadap Alkitab; Feminis Injili mengklaim bahwa mereka percaya bahwa Alkitab adalah firman yang diinspirasikan Allah dan Alkitab adalah sumber teologi mereka, sedangkan Feminis Liberal dan Radikal tidak mengklaim bahwa mereka percaya Alkitab sebagai firman yang diinspirasikan Allah.
KESIMPULAN

Gereja memiliki sejarah yang kelam dalam hubungannya dengan peranan wanita dalam gereja, sehingga menimbulkan perlawanan dalam bentuk gerakan feminis. Dalam bidang politik, ekonomi dan masyarakat mereka sudah mendapatkan kebebasan yang cukup.Namun di Gereja masih terkungkung dalam kedudukan mereka, sehingga menimbulkan gerakan feminis. Seharusnya ini mendoromg gereja menanggapi lebih serius. Sementara untuk Teologi Feminis, kecuali kelompok Feminis Injili, memang sumbang karena mengangap Alkitab bukan sebagai Firman Allah tapi sebagai produk patriakhal sehingga yang terburuk mereka tidak mengakui Allah dan pewahyuan supranatural. Gereja harus menanggapi ini dengan serius dan perlu pengujian kembali ideologi baik yang dipegang Gereja maupun kelompok feminis. “Karena bagi orang-orang Kristen semua ideologi harus diletakkan dan secara terus menerus diuji di dalam terang Injil”.

DAFTAR PUSTAKA

Conn, Harvey M, Teologi Kontemporer, (Malang: SAAT), 1999
Hadiwijono, Harun, Teologi Reformatoris Abad ke 20, (Jakarta: BPK GunungMulia), 1993
Hommes, Anne, Perubahan Peran Wanita Dan Pria Dalam Gereja Dan Masyarakat, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius dan Jakarta: BPK Gunung Mulia), 1992
Ling Ing Sian, Sebuah Tinjauan Terhadap Teologi Feminis Kristen, (http://www.seabs.ac.id/journal/oktober 2003)
Lumintang, Stevry Indra, Theologi Abu-abu Pluralisme Agama, (Malang: Gandum Mas), 2009
Stott, John, Isu-isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF), 1984

About STTJKI

SUCI, IMAN, AKADEMIS, PRAKTIS

Posted on October 18, 2011, in KONTEMPORER and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: