RUMAHKU SURGAKU (HOME SWEET HOME)

RUMAHKU SURGAKU (Home sweet Home)

Mazmur 128:1-6

1 Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!

2 Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!

3 Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!

4 Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.

5 Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu,

6 dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel!

Ada cuplikan lagu dari Keluarga Cemara  yang berbunyi demikian:

HARTA YANG PALING BERHARGA ADALAH KELUARGA

MUTIARA YANG PALING BERHARGA ADALAH KELUARGA

JIKA KELUARGAMU BAHAGIA AKAN SELALU DIKENANG ORANG

Nyanyian ziarah Salomo, tidak hanya menyampaikan hal-hal yang sedih tetapi juga berisi ucapan syukur. Ziarah berarti “merefleksikan kembali” atau retreat.  Salomo memiliki 700 istri dan 300 gundik, berapa jumlah anak-anaknya? Pasti sangat banyak.  Namun apakah keluarga Salomo bahagia? Nyanyian Salomo memberikan gambaran apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya mengenai rumah tangganya.

“Rumah bukan berarti gedung atau bangunan fisik (a house), tetapi sebuah bangunan hati yang bernama keluarga (a home). Dapatkah kita merasakan surga melalui rumah tangga/keluarga kita? Ketika anda bekerja, anda merindukan untuk pulang dan bertemu dengan anak istri. Anak istri menunggu si ayah datang dan menikmati kebersamaan, tertawa bersama, makan, berdoa, bermain, bercanda…. betapa bahagianya.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa : pernikahan bisa dibuat di surga, tetapi pemeliharaannya harus dikerjakan di bumi.  Suatu pernikahan dimaksudkan untuk saling melengkapi-dua orang yang bekerja sama sebagai satu kesatuan, bukan dengan bersaing, namun dalam kebersamaan yang saling menguntungkan. Belajar bagaimana bekerja sama dan bagaimana hidup bersama adalah “pemeliharaan cinta”.

Hal yang dapat kita petik dari Mazmur 128 adalah:

  1. Dasar rumah tangga dibangun di atas fondasi “takut akan TUHAN”

Di dalam pasal 127: 1, dikatakan bahwa jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.  Rumah kita tidak akan menjadi surga kalau Tuhan tidak hadir dan menjadi kontraktornya. Takut akan Tuhan merupakan wujud hikmat dari surga. Manusia harus hidup menurut jalan yang ditunjukkannya. Bayangkan jika Anda membeli barang baru misalnya bor listrik dengan power 110 Volt, tetapi anda tidak mengetahuinya karena tidak diberi buku petunjuk penggunaannya. Akibatnya? Ketika kita pasang bor itu dengan listrik di rumah kita, bor itu akan rusak karena rata-rata kita memakai 220 Volt.  Sama halnya ketika rumah tangga dibangun tanpa ada petunjuk bagaimana memeliharanya, tegangan yang terjadi menjadi tinggi, dan rumah tangga kita menjadi seperti perang dunia.  Efesus 5: 33, menjadi dasar perilaku/ karakter yang wajib dimiliki oleh sepasang suami istri untuk mempertahankan rumah tangganya. “Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.”

  1. Mampu menikmati hasil jerih payah tangan  atau “kerja keras”

Pernahkah Anda perhatikan orang yang terus bekerja tanpa hasil, sepertinya waktu 24 jam yang diberikan Tuhan tidak cukup. Namun ada orang yang lebih sibuk dari orang tadi tetapi berbahagia. Apa rahasianya?  Ada pepatah mengatakan bahwa: Hidup kita bagaikan koper yang serupa- semuanya berukuran sama- namun sejumlah orang dapat mengisi koper.

Surga menjadi gambaran kehidupan yang bahagia, bukan kerja paksa. Surga menjadi tempat di mana semua orang dapat menikmati hasil kerja kerasnya.  Jika kita dapat sungguh-sungguh memperhatikan waktu kita dan menggunaknnya dengan bijak maka kita akan dapat menikmatinya. Efesus 5:15,16 mengatakan:

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada .

Mazmur 128 mengajarkan bahwa hasil kerja keras anda akan membuat bahagia dan baik keadaannya, istrinya ikut berbahagia dan anak-anakpun menjadi tunas pohon Zaitun (analogi: masa depan yang cerah dan berharga). Istri akan seperti pohon anggur yang rimbun di rumahmu, berarti ia akan menghasilkan buah-buah , mendukung dan mengatur rumah tangga, ikut menolong suami agar keadaan keluarga teratur.  Buahnya adalah damai sejahtera.  Anak-anak seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejamu dalam arti bahwa seperti layaknya keluarga yang merasakan kebersamaan ketika makan bersama. Komunikasi terjalin, ada keterbukaan sehingga mereka akan menjadi pohon  zaitun yang berguna di masa depannya.

DANGER…!!
Jangan Sampai anda Jadi bagian Dari hal Di bawah ini:
1. 1 dari 10 pernikahan berakhir dengan PERCERAIAN
2. Merasa SALAH PILIH Pasangan Setelah Menikah
3. Merasa TERJEBAK Dalam Kehidupan Pernikahan
4. Memilih Bertahan dan Menderita DEMI ANAK ANAK
5. Menjalani Kehidupan Pernikahan Seperti Rutinitas

  1. Mendapat kesempatan untuk melihat generasi penerusnya berhasil ( ayat 6).

Survei membuktikan bahwa orang yang dapat mensyukuri hidupnya sehingga dapat bahagia adalah orang yang akan berumur lebih panjang daripada yang tidak. Kebahagiaan memampukan metabolisme tubuh bekerja lebih efektif sehingga kehidupan kita bisa lebih panjang/lama.            Dan berkat anak cucu disediakan bagi mereka yang berpegang teguh pada janji-Nya.  Salomo meyakini  bahwa orang yang takut akan Tuhan dan mau bekerja giat, dapat menikmati hasilnya dengan mendapatkan umur panjang.

Kesimpulan

  1. Sebagai orang Kristen yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat harus mengandalkan hikmat Tuhan daripada  hikmat manusia.
  2. Keluarga/ rumah tangga yang bahagia adalah keluarga yang mampu berkomunikasi dengan baik antar anggota keluarga sehingga setiap orang merasa aman dan nyaman di dalam keluarga.
  3. Berkat Tuhan tercurah bagi keluarga yang takut akan Tuhan.

Pertanyaan diskusi

  1. Apakah Tuhan sudah menjadi prioritas di dalam rumah tangga Anda?
  2. Bagaimana hubungan Anda dengan pasangan hidup, orang tua dengan anak, apakah membuat Anda betah dan selalu merindukannya?
  3. Apakah rasa nyaman dan aman dapat Anda temukan dalam keluarga Anda?
  4. Bagaimana anda memelihara keharmonisan keluarga Anda?

About STTJKI

SUCI, IMAN, AKADEMIS, PRAKTIS

Posted on July 17, 2012, in TAFSIR. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: